KABUPATEN KARANGANYAR, Harnasnews.com – Tawangmangu adalah sebuah kota kecil di Lereng Gunung Lawu yang berada di wilayah Kabupaten Karanganyar, Propinsi Jawa Tengah.
Tawangmangu di kenal dengan air terjunnya yang bernama Air Terjun Grojogan Sewu. Dengan Pemandangan yang indah Dan udaranya yang sejuk, Tawangmangu menjadi salah satu aset wisata di Kabupaten Karanganyar.
Wisata Alam dan Kuliner menjadi andalan wisata Tawangmangu. Berbagai menu makanan bisa kita dapatkan disana dengan rasa yang memanjakan lidah dan harga yang sangat ramah di kantong. Bayangin saja harga sate kambing satu porsi isi 10 tusuk harganya tidak lebih dari 25 ribu sudah termasuk teh manisnya. Murah kan.
Selain makanan, ada satu potensi yang menjadi daya tarik yaitu Kopi. Perkembangan petani kopi Saat ini sangat pesat. Tersebar di 4 Kecamatan yaitu, Kemuning, Ngargoyoso, Tawangmangu Dan Jatioso.
Berbagai kegiatan sering dilakukan oeh para pegiat kopi. Tahun lalu ada Lawu International Coffee Festival, Festival Kopi Lawu 1 Dan kemarin selama 2 hari digelar kembali Festival Kopi Lawu #2.
Ketua penyelengara, Sadiyono mengatakan, Festival Kopi Lawu di gelar selama 2 hari, dari tanggal 27-28 Juli 2026. Berbagai kegiatan dilakukan dalam rangkai acara tersebut ” Festival Kopi Lawu di gelar kemarin dari tanggal 27-28 Juli. Acara di gelar untuk lebih mengenalkan kopi lawu kepada masyarakat khususnya generasi muda dari mulai produksi hingga marketingnya ” ujar Sadi, panggilan akrab Sadiyono.
Peserta acara yang mayoritas mahasiswa tersebut di ajak untuk mengenal kopi lebih dalam. Dari mulai melihat kebun, mengenali pohon kopi dan buahnya, cara memetik, cara menjemur, mengupas ,me-roasting kopi, menyeduh , membedakan rasa kopi hingga bagaimana cara memasarkannya di era modern ini.
” Peserta kami ajak untuk Terjun langsung di lapangan. Melihat kebun kopi, membedakan buah yang siap di petik Dan yang belum, memanen, bagaimana mengolah bijinya , me-roasting, menyeduh kopi yang benar, membedakan rasa berbagai sumber produksi kopi hingga bagaimana memasarkannya” paparnya.
” Selain mengenalkan kopi, dalam Festival ini peserta juga kami ajak untuk mengenal budaya lokal Gamelan. Peserta bisa turut bermain gamelan di salah satu sanggar di Dusun Pancor, Kelurahan Kalisoro. Sehingga selain mengenal kopi peserta juga akan mengenal budaya lokal setempat” imbuh Sadi.
Pada sesi acara Tes Buta Rasa Kopi yang digelar di Hotel Facade, Kelurahan Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu Dosen Program Studi Matematika FMIPA UNS yang menjadi Pembimbing acara Festival Kopi Lawu Dr. Sutanto S.si. DEA, mengatakan acara kegiatan ini menjadi awal bagi Campusnya untuk melakukan pendampingan yang lebih sustainable.
” ini menjadi awal bagi kami untuk melakukan pendampingan yang lebih kongkret Dan berkelanjutan. Kami tidak ingin sepotong-sepotong. Kami akan melakukan pendampingan dari hulu ke hilir, dari mulai perencanaan, management produksi hingga digital marketingnya ” paparnya.
Saat ini menurut Sutanto yang biasanya dilakukan campus – campus itu masih sporadis, sepotong sepotong. Sutanto dalam hal ini ingin melakukan secara berkelanjutan, sehingga yang dia lakukan adalah menjadikan petani kopi seperti Sadiyono Dan kawan kawan sebagai mahasiswanya..
” Agar ini bisa berkelanjutan, maka mau tidak mau saya harus mengangkat petani kopi seperti Sadi dan kawan kawan sebagai mahasiswanya. Saya dosen di UNS tapi untuk menjadikan Sadi sebagai mahasiswa UNS perlu jalur masuk ke UNS, maka mereka saya masukan sebagai mahasiswa di Tiga Serangkai University ( TSU ) dimana saya adalah rektor disana ” paparnya.
Dengan diangkathya mereka sebagai mahasiswa TSU, menurut Sutanto akan lebih efektif Dan optimal dalam mengembangkan usaha kopi mereka.
” Para petani yang juga mahasiswa TSU akan bisa berkomunikasi langsung dengan Dosen TSU begitupun sebaliknya. Sehingga selama 3,5 tahun mereka belajar dengan Base Data Learning, akan mendapatkan Output Dan outcome nya. Mereka bisa belajar management perencanaan, produksi Dan marketingnya” tandasnya.
Menurut analisis Sutanto, Saat ini para petani itu Dari feseable Study yang dia lakukan, para petani ini baru memiliki skor 74 dari 100. Maka itu yang akan menjadi fokus pendampingnya. Karena kebutuhan kopi di Solo raya itu perlu lahan sekitar 65 hektar. ” Sementara petani di 4 Kecamatan di Kabupaten Karanganyar ini baru ada 30 hektar. Itu pun management produksi nya belum maksimal. Ini yang nanti Kita dorong, agar lebih produktif dan bisa terserap pasar secara efektif ” pungkasnya.
Festival Kopi Lawu ini bekerja sama dengan 4 universitas di Jawa Tengah, yaitu UNS, TSU, ISI dan Undip.
Dari beberapa sumber informasi masyarakat yang di dapat harnasnews.com, tanaman kopi di Lereng Gunung Lawu sudah ada sejak era pendudukan belanda. Beberapa wilayah di Tawangmangu hingga Ngargoyoso oleh pengusaha belanda sudah ditanami kopi. Namun seiring waktu, perkebunan tersebut hilang berubah menjadi hutan pinus dan kebun sayur petani sekitar.
5-10 tahun terakhir masyarakat mulai menanam kopi kembali. Rata – rata mereka menanam kopi di bawah tegakan pohon pinus di area hutan milik Perhutani.

