ACEH UTARA, Harnasnews — Ribuan jemaah memadati Lapangan Upacara Landing, depan Kantor Bupati Aceh Utara, Rabu malam (9/9/2026). Di tengah rangkaian besar peringatan Milad ke-800 Samudera Pasai, masyarakat tidak hanya datang untuk mengenang sejarah kerajaan Islam yang pernah menjadi salah satu pusat perdagangan dan penyebaran Islam di kawasan Nusantara.
Di hadapan masyarakat, ulama muda Aceh Tgk. Habibi An-Nawawi, Lc., M.Dipl., menyampaikan pesan yang jauh melampaui seremoni peringatan sejarah: kejayaan sebuah negeri tidak cukup dibangun dengan kekayaan, pembangunan fisik atau kebanggaan terhadap masa lalu. Fondasinya adalah iman, ilmu, persatuan dan keadilan.
Pesan tersebut disampaikan dalam zikir dan tausiyah akbar yang mengusung tema “Tajaga Adat, Tapeukong Syariat” atau menjaga adat dan menegakkan syariat.
Tema itu seolah menjadi pertanyaan besar yang ditujukan kepada generasi Aceh hari ini: setelah 800 tahun nama Samudera Pasai dikenang, nilai apa yang benar-benar masih diwariskan kepada generasi sekarang?
Malikussaleh dan Pertanyaan tentang Warisan Pasai
Tgk Habibi membawa jemaah kembali ke masa ketika Sultan Malikussaleh membangun fondasi Samudera Pasai.
Menurutnya, Pasai tidak semata-mata harus dilihat sebagai kerajaan masa lalu yang memiliki kejayaan ekonomi dan perdagangan.
“Delapan ratus tahun lalu, di tanah ini, Sultan Malikussaleh menancapkan tonggak Islam di Nusantara. Samudera Pasai bukan sekadar pusat perdagangan dunia, tetapi pusat syiar Islam yang menyinari seluruh Nusantara,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa kawasan Pasai pada masa itu menjadi tempat bertemunya ulama, sufi, penulis Al-Qur’an dan para pencari ilmu.
Karena itu, menurutnya, peringatan 800 tahun Samudera Pasai seharusnya tidak berhenti pada pesta dan seremoni. “Memperingati 800 tahun Samudera Pasai bukan sekadar merayakan masa lalu, tetapi kembali ke akar keislaman kita,” katanya.
Pernyataan tersebut menjadi penting di tengah kemeriahan rangkaian Piasan Pase 2026, yang tahun ini dikemas melalui berbagai kegiatan sejarah, budaya, agama, UMKM, olahraga dan kegiatan sosial.
Pertanyaannya kemudian bukan sekadar seberapa meriah 800 tahun Samudera Pasai diperingati, tetapi seberapa jauh nilai sejarah tersebut diterjemahkan ke dalam kehidupan masyarakat Aceh Utara hari ini.
“Jangan Zalim kepada Rakyat”
Bagian paling kuat dari tausiyah Tgk Habibi muncul ketika ia berbicara tentang keadilan.
Ia mengutip pesan yang dikaitkan dengan wasiat Sultan Malikussaleh agar manusia tidak menzalimi hamba Allah dan tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hukum Allah.
“Sebuah negeri tidak akan makmur jika tidak ada keadilan. Kekayaan tidak akan bertahan jika diambil dari yang lemah. Kejayaan Pasai dulu karena rakyatnya diperlakukan adil,” tegasnya.
Pesan itu menjadi salah satu titik penting malam tersebut.
Sebab, berbicara tentang kejayaan Samudera Pasai berarti berbicara pula tentang bagaimana sebuah pemerintahan memperlakukan rakyatnya.
Kejayaan sejarah tidak hanya diukur dari luas wilayah atau ramainya perdagangan, tetapi juga dari bagaimana hukum ditegakkan, bagaimana rakyat mendapatkan keadilan dan bagaimana kelompok lemah mendapatkan perlindungan.
“Tajaga Adat, Tapeukong Syariat”
Tgk Habibi kemudian mengingatkan masyarakat agar tidak mempertentangkan adat dengan agama.
Menurutnya, adat merupakan bagian penting dari identitas masyarakat Aceh selama tetap berjalan dalam koridor syariat.
“Warisan terbesar indatu bukan emas, bukan perak, bukan pula luas wilayah. Warisan terbesar mereka adalah adat yang berpijak pada syariat, dan syariat yang berakar pada Al-Qur’an dan Sunnah,” ujarnya.
“Jangan sampai kita meninggalkan adat karena agama, dan jangan pula kita meninggalkan agama karena adat. Keduanya ibarat dua sayap satu burung,” imbuhnya.
Pesan itu sekaligus mengingatkan bahwa identitas Aceh tidak dapat dilepaskan dari hubungan antara adat, agama dan sejarah.
Dari Kejayaan Pasai Menuju Aceh Utara Bangkit
Delapan abad setelah masa kejayaan Pasai, kondisi Aceh Utara tentu telah berubah.
Kerajaan telah berganti menjadi pemerintahan daerah. Pusat perdagangan masa lalu berubah menjadi kawasan permukiman, industri, pertanian dan berbagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat.
Namun satu persoalan tetap sama: bagaimana menciptakan kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat.
Karena itu, Tgk Habibi menyebut kebangkitan Aceh Utara tidak boleh berhenti menjadi slogan.
“Aceh Utara bangkit itu bukan slogan. Itu doa. Itu ikhtiar,” katanya.
Menurutnya, ikhtiar tersebut membutuhkan persatuan seluruh elemen masyarakat. “Bersama ulama, bersama tokoh adat, bersama pemerintah, bersama seluruh lapisan masyarakat,” lanjutnya.
Ia kemudian mengajak masyarakat mengambil semangat para leluhur.
“Seperti dulu para leluhur bersatu membangun Pasai, mari kita bersatu membangun Aceh Utara yang lebih Islami, lebih maju, lebih bermartabat dan lebih berkelanjutan,” ujarnya.
Peringatan 800 Tahun dan Tantangan Jangan Terjebak Seremoni
Peringatan Milad ke-800 Samudera Pasai tahun ini memang berlangsung dalam skala besar. Berbagai kegiatan digelar dalam rangkaian Piasan Pase 2026. Sejarah, budaya, keagamaan, UMKM dan kegiatan masyarakat dipadukan menjadi satu agenda besar.
Namun dari sisi substansi, pesan Tgk Habibi justru memberikan perspektif berbeda. Delapan abad sejarah akan kehilangan makna jika hanya menghasilkan seremoni tahunan. Nilai sejarah baru akan hidup ketika generasi sekarang mampu menerjemahkannya ke dalam pendidikan, ekonomi, kebudayaan, pemerintahan yang bersih, keadilan sosial dan kehidupan masyarakat yang berakhlak.
Dengan kata lain, pertanyaan besarnya bukan apakah masyarakat masih mengenal Malikussaleh.
Pertanyaannya adalah: apakah nilai Malikussaleh masih hidup dalam cara masyarakat dan pemimpin Aceh Utara memperlakukan sesamanya?
“Jangan Sampai Orang Asing Lebih Menghargai Sejarah Kita”
Tgk Habibi juga memberikan peringatan agar masyarakat tidak kehilangan identitas sejarah.
“Delapan abad berlalu. Banyak kerajaan datang dan pergi. Tapi Samudera Pasai tetap hidup dalam hati anak cucunya,” katanya.
Menurutnya, keberlangsungan nama Pasai tidak terlepas dari fondasi keimanan dan keadilan yang melekat dalam sejarahnya.
“Maka tugas kita hari ini bukan sekadar mengenang, tetapi membangun kembali kejayaan itu dengan ilmu, dengan akhlak, dengan persatuan.”
Ia kemudian menyampaikan satu kalimat yang cukup tajam:
“Jangan sampai orang asing lebih menghargai sejarah kita daripada kita sendiri.”
Pernyataan tersebut menjadi refleksi penting di tengah berbagai upaya mengangkat kembali sejarah Samudera Pasai dalam momentum 800 tahun.
Dari Zikir Menuju Titik Balik
Menjelang akhir tausiyah, Tgk Habibi tidak mengajak masyarakat sekadar bernostalgia.
Ia justru berharap peringatan 800 tahun menjadi momentum perubahan.
“Semoga Allah menjadikan peringatan 800 tahun ini sebagai titik balik, di mana kita kembali mencintai sejarah, kembali mencintai ilmu, kembali mencintai keadilan dan kembali mencintai persatuan,” katanya.
Ia berharap generasi saat ini tidak hanya menjadi pewaris nama besar Samudera Pasai.
Tetapi mampu menjadi generasi yang melampaui capaian para leluhur.
“Semoga Allah menjadikan kita generasi yang mampu meneruskan perjuangan indatu, bukan hanya mengenang, tetapi melampaui kejayaan mereka di masa yang akan datang,” tutupnya.
Malam Itu Bukan Hanya Tentang 800 Tahun
Zikir dan tausiyah akbar malam ini dihadiri Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil bersama jajaran pemerintah daerah, ulama, tokoh adat dan ribuan masyarakat.
Masyarakat datang untuk berzikir dan mendengarkan tausiyah. Namun pesan yang dibawa pulang jauh lebih besar daripada sekadar rangkaian acara.
Milad 800 tahun Samudera Pasai pada akhirnya bukan hanya pertanyaan tentang masa lalu. Ia menjadi cermin bagi Aceh Utara hari ini.
Apakah sejarah mampu menjadi sumber inspirasi?
Apakah adat tetap berjalan bersama syariat?
Apakah pembangunan menghadirkan keadilan?
Dan yang paling penting, apakah semangat persatuan yang pernah menjadi kekuatan Pasai masih mampu menjadi energi untuk membangun Aceh Utara?
Kini tantangannya bukan lagi bagaimana membuktikan bahwa Pasai pernah berjaya. Tantangannya adalah membuktikan bahwa generasi hari ini mampu menciptakan kejayaan baru tanpa kehilangan akar sejarah, adat dan syariat. (Zulmalik)

