JAKARTA, Harnasnews- Direktur Eksekutif Etos Indonesia, Iskandarsyah, memberikan apresiasi tinggi terhadap kinerja Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto dalam pemberantasan narkotika pasca menjabat sebagai Kapolri.
Iskandar menilai langkah tegas Polri menyisir tempat-tempat yang menjadi titik rawan peredaran narkoba patut didukung bersama.
“Operasi narkotika pasca naiknya Kapolri baru harus sama-sama kita dukung, ini luar biasa, semua titik-titik tempat hiburan malam yang dianggap maraknya peredaran narkotika disisir habis, gudang-gudang besar habis, kampung-kampung narkoba juga dilibas habis,” kata Iskandar dalam keterangannya, Sabtu (25/10/2026).
Menurutnya, keberhasilan operasi tersebut tidak lepas dari keseriusan Kapolri dan perlu didukung peran aktif masyarakat.
“Ini luar biasa, kita harus apresiasi dan tentunya perlu peran masyarakat untuk membantu itu semua, termasuk membantu dalam informasi-informasi, kita sama-sama selamatkan anak bangsa kita dari bahaya narkotika,” ujarnya.
Iskandar mengaku hampir setiap hari melihat perkembangan operasi pemberantasan narkotika yang dilakukan Polri di berbagai daerah.
“Sepertinya Kapolri benar-benar serius membasmi ini semua, beliau tinggal instruksikan seluruh Kapolda se-tanah air untuk operasi serentak berkoordinasi dengan BNN. Semoga perlahan narkotika bisa selesai walaupun ini PR yang panjang,” ungkapnya.
Selain mengapresiasi operasi pemberantasan, Iskandarsyah juga menyoroti maraknya pusat-pusat rehabilitasi narkotika yang terkesan komersil dan berbayar mahal.
Ia mengaku akan mengajukan usulan penutupan pusat rehabilitasi komersil tersebut kepada Kapolri.
“Pusat rehabilitasi yang berbayar dan terkesan komersil kami usulkan untuk ditutup saja. Biarlah pusat rehab hanya di BNN atau yayasan yang benar-benar melaksanakan rehab secara sosial,” tegasnya.
Sebab jika rehab komersil terus menjamur, akan menjadi preseden buruk, sehingga timbul asumsi bahwa mereka sepertinya bahagia jika banyak pemakai narkoba di negara ini, karena ada pemasukan.
“Oleh sebab itu harus ditertibkan, kalau cari uang jangan buka tempat rehab,” kata Iskandar menutup wawancaranya. (Mam)

