Bupati Dan Wabup Bojonegoro Tilik Dulur, Nyambung Roso, Monggo Nandur” Dialog Interaktif Medhayoh Edisi IX”

4 Min Read

Langkah tersebut diperlukan untuk menjaga kondisi tanggul sekaligus mengurangi potensi kehilangan air akibat penguapan saat musim kemarau.

Bagi Pemkab Bojonegoro, penguatan infrastruktur air bukan sekadar pembangunan fisik.

Keberadaannya diharapkan mampu menjaga kesinambungan produksi pertanian sekaligus membuka peluang pengembangan potensi wisata berbasis desa.

Dialog Medhayoh juga berkembang menjadi forum penyampaian berbagai persoalan masyarakat.

Warga, pemerintah desa, kelompok tani, serta tokoh masyarakat menyampaikan sejumlah aspirasi yang tidak hanya berkaitan dengan pertanian.

Beberapa di antaranya menyangkut penguatan UMKM, bantuan peternakan, Program GAYATRI (Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri), hingga sektor pendidikan.

Bupati Setyo Wahono menegaskan bahwa setiap program pemerintah harus mendapat pengawasan agar manfaatnya benar-benar diterima masyarakat yang berhak.

Dia meminta program bantuan, mulai dari sektor peternakan hingga GAYATRI, dikawal sejak proses pelaksanaan hingga pemanfaatannya.

Hal serupa berlaku pada sektor pendidikan, Pemkab Bojonegoro terus menjalankan program satu desa 10 sarjana, sementara usulan penambahan kuota akan dipertimbangkan dengan memperhatikan kemampuan anggaran daerah.

“Semua program harus dikawal, mulai dari bantuan ternak hingga Program Gayatri. Begitu pula sektor pendidikan, program satu desa 10 sarjana terus kita jalankan dan usulan penambahan kuota akan dikaji sesuai kemampuan anggaran daerah,” katanya.

Bupati menegaskan, Medhayoh bukan hanya kegiatan kunjungan kerja.

Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi sarana pemerintah daerah untuk mendekatkan diri kepada masyarakat dan mencari solusi atas persoalan yang dihadapi warga.

Melalui dialog secara langsung, pemerintah dapat memperoleh gambaran mengenai kebutuhan masyarakat sekaligus menyesuaikan kebijakan dengan kondisi di lapangan.

“Saya ingin mendengar langsung masukan, saran, maupun keluhan dari panjenengan. Ini menjadi bahan bagi kami untuk menghadirkan solusi konkret yang sesuai dengan regulasi,” pungkas Setyo Wahono.

Kegiatan di Desa Cengkir tersebut sekaligus mempertegas semangat “Tilik Dulur, Nyambung Roso, Monggo Nandur”, yakni membangun Bojonegoro dengan memperkuat hubungan pemerintah dan masyarakat, menggali potensi desa, serta mendorong sektor pertanian agar semakin produktif dan berkelanjutan. (Prokopim)(sh,).

TAGGED:
Share This Article