Jika Jakarta Etalase, Bekasi Pabrik dan Dapurnya, Ketua KADIN: Tanpa Bekasi, Rantai Pasok Lumpuh

Pusat
5 Min Read

Sebagai mitra strategis pemerintah, KADIN Kota Bekasi melihat ada tiga agenda besar yang harus dikerjakan bersama untuk naik kelas dari “penyangga” menjadi “mitra setara”.

1. Transformasi dari Kota Industri Menjadi Kota Nilai Tambah.
Selama ini Bekasi kuat di manufaktur. Tantangan ke depan adalah bagaimana industri di Bekasi naik ke rantai nilai yang lebih tinggi. Tidak hanya merakit, tapi juga mendesain, melakukan riset, dan menciptakan merek.

“KADIN mendorong sinergi antara industri besar dengan UMKM sebagai rantai pasok. UMKM Bekasi jangan hanya jadi penonton, harus menjadi bagian dari global supply chain industri-industri besar yang ada di Bekasi dan sekitarnya,” kata Ruslan.

2. Membenahi Ekosistem Hunian Urban yang Produktif.
Bekasi adalah kawasan hunian urban terbesar. Tapi hunian tidak boleh hanya berarti tempat tidur. Hunian harus menjadi pusat ekonomi baru.

“KADIN melihat potensi ekonomi kreatif, ekonomi digital, dan ekonomi jasa yang tumbuh dari kawasan-kawasan perumahan. Kaum muda Bekasi yang bekerja remote untuk perusahaan Jakarta atau bahkan luar negeri, adalah potensi ekonomi baru yang harus difasilitasi dengan infrastruktur digital dan ruang-ruang kolaborasi,” ujarnya.

3. Kepastian dan Kemudahan Berusaha.
Ini kunci utamanya. Ruslan mengingatkan, PDRB Rp279 triliun tidak akan bertahan jika iklim usahanya tidak kondusif.

“Dunia usaha butuh kepastian regulasi, perizinan yang cepat dan transparan, serta sinergi yang kuat antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat. Jangan sampai investor yang sudah nyaman di Bekasi pindah karena persoalan birokrasi,” tegasnya.

KADIN Siap di Garis Depan

Dalam konteks inilah KADIN Kota Bekasi memposisikan diri. Qadar menegaskan, KADIN bukan sekadar organisasi pengusaha, melainkan mitra strategis pemerintah.

Dia menyatakan siap bersinergi penuh dengan pelaku dan dunia usaha, baik di sektor industri manufaktur raksasa yang menjadi tulang punggung PDRB, maupun di sektor UMKM yang menjadi penopang daya tahan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja.

“Bekasi memiliki segalanya untuk tidak lagi menatap Jakarta dari bawah, tapi berdiri sejajar bertatap muka. Saatnya kita ubah narasi, dari Bekasi yang menopang Jakarta, menjadi Bekasi dan Jakarta yang saling menopang Indonesia,” tutup Ruslan. (Mame)

Share This Article