
Dia menjelaskan Sidang IPU ke-144 di Bali pada Maret 2022 telah mengadopsi item darurat berjudul “Resolusi Damai Perang di Ukraina, Menghormati Hukum Internasional, Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Tntegritas Teritorial”.
Menurut dia, untuk item darurat, Forum Anggota Parlemen Perempuan telah berkontribusi dengan membuat rekomendasi kuat mengenai gugus tugas yang dibuat setelah item darurat.
“Agar komposisinya seimbang gender dan termasuk negara-negara yang tidak memiliki kepentingan tinggi dalam konflik,” katanya, dikabarkan dari antara.
Menurut dia, para pemimpin perempuan harus bersatu untuk memperkuat suara dan upaya berbagai pemangku kepentingan sangat penting untuk memperkuat pemberdayaan perempuan.
Langkah itu untuk mengembangkan solusi yang bermakna, efektif, dan inklusif untuk proses pemulihan global, perempuan harus berada di depan dan tengah memimpin jalan.
“Solidaritas global adalah kuncinya dan multilateralisme adalah satu-satunya jalan. Perdamaian dan keamanan harus menjadi prioritas karena dunia tidak akan pernah bisa mencapai kemakmuran jika konflik masih terjadi,” katanya.
Puan mengatakan parlemen sebagai perwakilan suara kolektif rakyat merupakan landasan demokrasi yang memiliki semua potensi untuk membangun dunia agar lebih kuat dan tangguh untuk semua.
Oleh karena itu, dia mengajak seluruh anggota Forum Parlemen Perempuan IPU untuk menciptakan dunia bagi semua generasi dan tindakan sekarang untuk membangun dunia yang lebih berkelanjutan, damai, dan sejahtera.(qq)
