Ketua PW PII Riau: Pancasila Harus Jadi Pedoman Etis Insinyur Indonesia

Pusat
2 Min Read

RIAU, Harnasnews – Ketua Pengurus Wilayah Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Provinsi Riau, Ir. Ulul Azmi, ST., M.Si., CST., IPM., ASEAN Eng, menegaskan bahwa peran insinyur dalam perspektif kebangsaan memiliki makna yang luas.

Menurutnya, menjadi insinyur bukan hanya tentang membangun beton, mendirikan gedung, membangun jalan dan jembatan, atau menciptakan teknologi. Insinyur memiliki tanggung jawab moral untuk ikut membangun bangsa, menjaga keselamatan manusia, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Insinyur juga ikut terlibat membangun peradaban dan tidak hanya menghitung kekuatan struktur, tetapi juga harus memahami kekuatan nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan. Jika pembangunan tidak memberikan manfaat bagi rakyat, maka pembangunannya patut dipertanyakan,” ujar Ulul dalam keterangan tertulisnya, Rabu (28/10/2026).

Ulul yang tercatat sebagai Ketua Pengurus Wilayah PII termuda se-Indonesia itu menyebutkan, nilai-nilai Pancasila harus menjadi pedoman bagi setiap insinyur dalam menjalankan profesinya.

Ia merinci, sila pertama mengajarkan bekerja dengan jujur, berintegritas, dan penuh tanggung jawab moral. Sila kedua menjadikan keselamatan manusia, kesehatan masyarakat, dan kelestarian lingkungan sebagai prioritas.

Kemudian sila ketiga memperkuat persatuan bangsa, membuka konektivitas, dan mengurangi kesenjangan antarwilayah. Sila keempat mengedepankan musyawarah, kajian ilmiah, dan kepentingan masyarakat luas dalam setiap keputusan pembangunan. Sedangkan sila kelima mengamanatkan agar hasil pembangunan dan kemajuan teknologi dirasakan secara adil oleh seluruh lapisan masyarakat.

Ulul juga menyinggung bahwa ketahanan nasional tidak hanya berbicara tentang pertahanan dan keamanan, tetapi juga tentang bagaimana bangsa membangun dan menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, energi, industri, dan infrastruktur.

“Indonesia memiliki sumber daya alam yang luar biasa, sehingga kita tidak boleh hanya menjadi penonton atau pengguna teknologi negara lain,” ungkapnya.

Ia menambahkan, menjadi insinyur merupakan kewajiban untuk mengabdi dan melakukan bela negara. Hal itu dapat diwujudkan melalui pembangunan infrastruktur yang aman, menjaga keselamatan pekerja, dan menghadirkan teknologi yang bermanfaat.

Menurut Ulul, Indonesia membutuhkan insinyur yang tidak hanya hebat secara teknis, tetapi juga memiliki integritas, jiwa nasionalisme, dan kepedulian terhadap masyarakat.

“Keinsinyuran adalah kompetensi, integritas adalah kehormatan, kebangsaan adalah landasan, dan pengabdian kepada Indonesia adalah tujuan,” pungkasnya. (Mam)

Share This Article