Festival Kopi Bogor selalu konsisten menampilkan dan memperkenalkan brand kopi lokal terbaik dari Bogor. Hasil produksi pelaku industri kopi asal Kabupaten Bogor, seperti petani kopi nusantara, roaster kopi berbakat, barista, distributor dan pembuat mesin kopi. Kemudian penjual kopi di tingkat grosir, retail, hingga warung kopi dan tentunya para penikmat kopi yang tidak pernah absen meramaikan acara 2 tahunan ini.
Pemerintah Kabupaten Bogor, melalui Festival Kopi Bogor selalu membuktikan dukungannya terhadap kualitas petani dan biji kopi asli Bogor yang tidak kalah dan bahkan mampu bersaing dari segi cita rasa, aroma dan tekstur melalui ajang perlombaan Kopi Robusta.
Hasilnya, cita rasa Kopi Robusta Bogor yang unik, serta memiliki kualitas mutu fisik biji kopi yang baik berhasil menyabet berbagai prestasi nasional hingga internasional, salah satunya mendapatkan Bronze Medal Avpa Gourmet Product pada Pameran Sial Paris di Perancis.
Pemkab Bogor juga senantiasa melakukan strategi pengembangan kopi Bogor tak hanya melalui berbagai kegiatan. Dalam mendukung peningkatan produksi kopi robusta di Kabupaten Bogor, Plt Bupati Bogor Iwan Setiawan bahkan mendukung pelaksanaan strategi dan arah kebijakan yang menjadi prioritas dalam Perubahan RPJMD Kabupaten Bogor Tahun 2018-2023, antara lain yaitu:
Menyediakan sarana dan prasarana pertanian, dengan arah kebijakan meningkatkan penyediaan dan pengembangan sarana dan prasarana pertanian. Melakukan mitigasi bencana pertanian dan kualitas pelayanan pelaku usaha pertanian, dengan arah kebijakan meningkatkan penanganan organisme pengendali tanaman (OPT) dan penanggulangan bencana alam akibat perubahan iklim, serta mningkatkan pelayanan rekomendasi ijin usaha pertanian.
Juga rutin meningkatkan kualitas penyuluhan pertanian dengan arah kebijakan meningkatkan kompetensi SDM pertanian dan kelembagaan penyuluh pertanian. Strategi, arah kebijakan, kebijakan, program dan kegiatan diarahkan untuk mewujudkan program strategis Bupati yaitu Panca Karsa, yang salah satunya adalah produksi kopi robusta terbesar di Jawa Barat. Berdasarkan evaluasi Panca Karsa Tahun 2019 dan 2020, program Panca Karsa “Produksi Kopi Robusta Terbesar di Jawa Barat” telah Berhasil Tercapai sesuai target yang ditetapkan.
Berdasarkan catatan sejarah, kenikmatan aroma dan cita rasa kopi Bogor ini sudah ada sejak aham van Riebeek mantan Gubernur Jenderal VOC di Hindia Belanda yang membawa bibit pertama biji kopi ke Nusantara dari pantai Malabar India yang kemudian ia tanam di Buitenzorg (bogor) pada tahun 1725.
Bogor (Buitenzorg) kemudian disebut sebagai Kota Penanaman dan Penebar Kopi Pertama di Nusantara. Kemungkinan besar, nama gunung Malabar di Jawa Barat diambil dari sejak ditanamnya benih-benih kopi atau teh dari Malabar di lereng gunung tersebut. Sejak itulah kopi menjadi salah satu andalah utama komoditi bangsa Belanda yang penanamannya menyebar hingga ke pulau Soematera terutama di Tapanoeli.
Tidak berselang lama, para penjual kopi eceran mulai bermunculan di Bogor, mereka meracik biji kopi Robusta dan Arabica pilihan untuk memenuhi kebutuhanmasyarakat. Berbagai nama kopi peninggalan tersebut masih eksis hingga saat ini, seperti Kopi Liong Bulan, Tjap Teko, Tjap Katjamata (Bah Sipit), Kopi Liong Obor (Ngesti), dan Tjap Oplet.
Kopi yang ditanam di tanah Bogor tersebut menciptakan aroma dan cita rasa yang khas yang tidak dapat ditemukan ditempat lain. Melihat keunikan kopi Bogor, Belanda semakin gencar membudidayakan kopi sebagai komoditas utama yang dikirim ke Belanda. Tercatat, pengolahan biji kopi terbesar dibangun di Buitenzorg pada tahun 1866. (Dod)

