KOTA BEKASI, Harnasnews.com – Penataan kawasan Pasar Baru Bekasi dengan merelokasi pedagang yang selama ini berjualan di sepanjang Jalan Ir. H. Juanda dan Jalan Mohammad Yamin, Kecamatan Bekasi Timur terus dilakukan.
Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi menilai langkah ini dilakukan untuk mengembalikan fungsi jalan sebagai ruang publik sekaligus menciptakan lingkungan perdagangan yang lebih tertata.
Wali Kota Bekasi Tri Adhianto mengatakan proses relokasi pedagang ke Rooftop Blok I Pasar Baru Bekasi telah memasuki hari ke-29. Hingga saat ini, ratusan pedagang telah menempati lokasi baru yang disiapkan pemerintah.
“Dari sekitar 300 pedagang yang sebelumnya beraktivitas di Jalan Juanda, saat ini sebanyak 216 pedagang sudah terdata menempati Rooftop Blok I. Sisanya sebagian berpindah ke lokasi lain, namun proses penataan terus berjalan,” ujar Tri Adhianto saat meninjau lokasi, Selasa 21 Juli 2026.
Menurutnya, keberhasilan penataan tidak hanya bergantung pada relokasi pedagang, tetapi juga dukungan masyarakat untuk mulai membiasakan berbelanja di lokasi yang telah disediakan.
“Kami berharap warga yang selama ini berbelanja di Pasar Baru mulai beradaptasi untuk berbelanja di atas. Dengan begitu aktivitas ekonomi para pedagang tetap berjalan dan kawasan pasar menjadi lebih tertib,” katanya.
Tri mengakui, masih terdapat sejumlah fasilitas yang perlu dilengkapi guna meningkatkan kenyamanan pedagang maupun pengunjung. Salah satunya adalah pembangunan awning atau penutup atap di area rooftop.
Ia mengaku telah meminta Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Disperkimtan) Kota Bekasi untuk menyusun rencana pembangunan fasilitas tersebut.
“Ada permintaan dari pedagang agar dibuatkan awning. Kami sudah meminta dinas terkait melakukan penyesuaian. Memang tidak bisa dilakukan dalam waktu dekat karena harus disiapkan pendanaannya. Kalau memungkinkan, kami juga akan mencari dukungan melalui program CSR agar prosesnya lebih cepat,” ungkap Tri.
Dengan adanya penutup atap, aktivitas perdagangan diharapkan dapat berlangsung lebih lama tanpa terganggu cuaca panas maupun hujan.
“Kalau saat ini sekitar pukul 07.00 atau 08.00 sudah mulai terasa panas, nanti setelah tertutup pedagang bisa berjualan lebih nyaman dan jam operasionalnya bisa lebih panjang,” tambahnya.
Selain penambahan atap, Pemkot Bekasi juga mempertimbangkan pembangunan fasilitas akses vertikal seperti tangga berjalan atau eskalator untuk memudahkan pengunjung, khususnya lansia dan penyandang disabilitas.
“Kami sedang mengkaji kebutuhan akses ke rooftop. Kalau memang diperlukan, eskalator atau fasilitas serupa sangat mungkin untuk diwujudkan secara bertahap,” katanya.
Tak hanya Rooftop Blok I, Pemkot Bekasi juga mulai mengkaji pemanfaatan Rooftop II sebagai lokasi relokasi lanjutan. Langkah ini ditujukan untuk menampung pedagang yang saat ini masih berjualan di kawasan Jalan Mohammad Yamin.
Tri memperkirakan jumlah pedagang di Jalan Mohammad Yamin mencapai 500 hingga 600 orang. Jika digabungkan dengan pedagang yang sebelumnya berjualan di Jalan Juanda, total pedagang yang akan ditata mencapai sekitar 800 orang.
“Kami sedang menghitung kekuatan dan fungsi Rooftop II. Jika memungkinkan, pedagang yang saat ini masih berada di Mohammad Yamin juga akan dipindahkan ke area yang lebih tertata. Tujuannya agar Jalan Juanda dan Mohammad Yamin benar-benar bisa kembali difungsikan untuk masyarakat pengguna jalan,” jelasnya.
Tri menilai relokasi pedagang ke dalam area resmi pasar juga dapat meminimalkan berbagai pungutan yang selama ini kerap terjadi ketika pedagang berjualan di badan jalan.
“Ketika berjualan di rooftop, pedagang cukup membayar retribusi resmi. Dengan begitu biaya yang mereka keluarkan lebih jelas dan diharapkan penghasilannya juga bisa lebih baik,” ujarnya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap proses relokasi, Pemkot Bekasi juga telah menambah fasilitas penerangan di area rooftop dengan memasang sekitar 70 titik lampu.
“Awalnya lampu belum tersedia. Sekarang sudah kami tambahkan sekitar 70 titik lampu. Mungkin nanti masih ada kebutuhan lain seiring bertambahnya jumlah pedagang dan pengunjung, tetapi semuanya akan kami penuhi secara bertahap,” kata Tri.
Ia memastikan Pemkot Bekasi akan terus mendengarkan aspirasi pedagang selama proses penataan berlangsung.
“Yang terpenting masyarakat dan para pedagang harus yakin bahwa pemerintah hadir dan mendengar. Semua kebutuhan akan kami penuhi secara bertahap sesuai kemampuan dan mekanisme anggaran yang ada. Kami ingin penataan ini berjalan baik, ekonomi pedagang meningkat, dan masyarakat juga mendapatkan pasar yang lebih nyaman,” pungkasnya.
Perwakilan pedagang Pasar Baru Bekasi, Arif, mengatakan para pedagang pada prinsipnya mendukung program penataan yang dilakukan Pemerintah Kota Bekasi, termasuk relokasi dari Jalan Ir. H. Juanda ke area Rooftop Pasar Baru Bekasi.
“Kami sebagai pedagang mengikuti program dan aturan yang sudah ditetapkan pemerintah. Namun setelah dipindahkan ke atas, kami berharap fasilitas dan kelayakan tempat berdagang juga menjadi perhatian. Misalnya akses untuk kendaraan pengangkut sayur dan barang dagangan yang masih mengalami kendala untuk naik ke area rooftop,” ujar Arif.
Menurut dia, para pedagang juga berharap seluruh pedagang dapat segera menempati lokasi baru agar aktivitas perdagangan kembali ramai dan pelanggan terbiasa berbelanja di area rooftop.
“Kami berharap seluruh pedagang bisa naik dan menempati lokasi yang sudah disediakan, sehingga pelanggan juga ikut naik ke atas dan aktivitas jual beli bisa kembali normal,” katanya.
Arif mengungkapkan, sebelum direlokasi para pedagang yang berjualan di Jalan Juanda harus mengeluarkan biaya operasional yang relatif besar. Sementara setelah pindah ke rooftop, biaya harian yang dikenakan jauh lebih ringan.
“Kalau dulu saat masih di Jalan Juanda, pengeluaran bisa lebih dari Rp100 ribu per hari. Sekarang di rooftop hanya sekitar Rp10 ribu per lapak per hari. Dari sisi biaya memang jauh lebih ringan, tetapi dari sisi keramaian dan jumlah pembeli masih belum seperti saat kami berjualan di bawah,” ujarnya.
Ia menilai akses menuju rooftop masih menjadi tantangan utama, baik bagi pembeli maupun pedagang. Karena itu, pihaknya menyambut baik rencana pemerintah untuk meningkatkan fasilitas, termasuk penambahan eskalator dan perbaikan infrastruktur pendukung lainnya.
“Kalau memang nanti ada eskalator dan fasilitas penunjang lainnya tentu sangat membantu, terutama untuk pedagang maupun pembeli yang membawa barang ke atas. Begitu juga dengan perbaikan atap dan saluran air agar aktivitas perdagangan tetap nyaman saat hujan,” katanya.
Dari sisi pendapatan, Arif mengakui omzet pedagang mengalami penurunan dibandingkan saat masih berjualan di Jalan Juanda. Jika sebelumnya omzet usahanya dapat mencapai sekitar Rp3 juta per hari, kini pendapatan yang diperoleh masih berada di bawah angka tersebut.
“Kalau saya pribadi, saat ini omzet baru sekitar 80 persen dari kondisi normal. Dulu saat masih di Jalan Juanda omzet bisa mencapai sekitar Rp3 juta per hari. Sekarang masih terasa penurunannya karena akses pembeli belum semudah sebelumnya,” jelasnya.
Meski demikian, Arif menegaskan para pedagang tetap mendukung upaya penataan kota yang dilakukan pemerintah. Ia berharap ke depan tersedia lokasi berdagang yang lebih representatif dan mudah dijangkau masyarakat.
“Kami memahami Kota Bekasi sedang ditata menjadi lebih baik. Karena itu kami mengikuti aturan yang ada. Namun kami juga berharap pemerintah terus memperhatikan kebutuhan pedagang. Jika ke depan ada lokasi yang lebih layak, terutama yang berada di dalam area pasar dan lebih mudah dijangkau pembeli, tentu itu menjadi harapan kami bersama,” tuturnya.(Mam)

