
Geliat Bekasi, Antara Pertumbuhan Ekonomi Dan Pergeseran Nilai Budaya
KOTA BEKASI, Harnasnews.com – Sejarah Kota Bekasi terbilang panjang, bermula dari wilayah kekuasaan Kerajaan Tarumanegara (abad ke-5) dengan nama Dayeuh Sundasembawa atau Jayagiri. Nama Bekasi berasal dari Bhagasasi (cahaya yang memancar) yang berevolusi dari istilah Candrabhaga.
Setelah mengalami pemekaran, Kota Bekasi menjadi Kota Administratif sejak 20 Arpil 1982 setelah lepas dari Kabupaten Bekasi. Kini Kota Bekasi menjadi salah satu magnet inventasi dengan penduduk saat ini mencapai 2,7 juta jiwa dari berbagai etnis dan suku.
Geliat ekonomi berkembang pesat dengan berbagai macam warna menghiasi sudut Kota Bekasi.
Sejarawan Bekasi, Ali Anwar menjelaskan bahwa perkembangan zaman terutama di Kota Bekasi, akan berdampak pada pergeseran nilai budaya asli Bekasi. Namun, kata Ali, Pergeseran budaya merupakan sesuatu yang lumrah terjadi di Bekasi, dan itu terjadi dari masa ke masa.
“Yang penting antara saudara-saudara kita dari kaum anshar dan muhajirin saling menghormati, damai, penuh semangat patriotik. Bersama jadi pejuang, jangan jadi pengkhianat. Seni budayanya juga begitu. Semua bisa hadir dan berkreasi di Bekasi, tapi tetap menghargai seni budaya Bekasi. Menarik kalau dikolaborasikan, sehingga melahirkan kreasi baru,” ujar Ali kepada media, Rabu (01/04/26).
Lebih lanjut Ali Anwar juga menegaskan bahwa berkembangnya pertumbuhan ekonomi di Kota Bekasi dengan kehadiran para investor akan berdampak positif bagi warga Kota Bekasi tanpa menghilangkan budaya asli.
“Seyogyanya perusahaan seperti Summarecon dan lainnya termasuk mal-mal modern, memberikan sentuhan kekulturan Bekasi, sehingga modern namun tetap kuat ciri khas Bekasinya,” katanya.
Ali juga menilai bahwa kehadiran Summarecon Bekasi ikut membantu menata etalase Kota Bekasi di mata Nasional bahkan internasional.
“Kehadiran Summarecon di Bekasi amat bagus, terutama dalam penataan kota, lalu-lintas, ruang terbuka hijau, berkumpulnya komunitas, sehingga masyarakat Kota Bekasi yang semakin bertambah merasa happy,” tukasnya.
Ali juga meminta semua pihak, terutama pemerintah Kota Bekasi untuk mensuport para budayawan dan senimannya yang direpresentasikan melalui Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Bekasi (DK3B) dengan anggaran yang layak.
“Sampai sekarang pemerintah tidak memberikan anggaran untuk DK3B sepeserpun,” ungkap dia.
Sekedar diketahui, Summarecon Bekasi mulai dibangun pada tahun 2010 silam dan hingga saat ini terus berkembang. Kawasan kota mandiri seluas kurang lebih 240-270 hektar di Kecamatan Bekasi Utara.(Mam)
