Tanggapi Film Pesta Babi, Begini Kata Ketum LPKAN

aji
4 Min Read

JAKARTA,Harnasnews – Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Lembaga Pengawasan Kinerja Aparatur Negara (LPKAN) Indonesia memandang bahwa kemunculan film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita telah membuka ruang diskusi publik mengenai pembangunan, lingkungan hidup, hak masyarakat adat, serta arah kebijakan negara di Papua Selatan.

Sebagai organisasi masyarakat sipil yang berkomitmen pada pengawasan kinerja, dan hal-hal terkait dengan domain publik, LPKAN Indonesia menghormati kebebasan berekspresi dan hak setiap warga negara untuk menyampaikan pandangan, termasuk melalui karya dokumenter.

“Namun demikian, LPKAN Indonesia menegaskan bahwa setiap karya dokumenter merupakan representasi perspektif tertentu yang tidak dapat secara otomatis diposisikan sebagai satu-satunya kebenaran. Sebuah film merupakan hasil pemilihan data, narasi, sudut pandang, serta interpretasi pembuatnya,” ungkap Ketua umum DPP LPKAN Indonesia, R Mohammad Ali dalam keterangan tertulisnya, Jumat (5/6/2026).

Oleh karena itu, seluruh informasi yang disajikan perlu diuji secara kritis, proporsional, dan terbuka terhadap verifikasi dari berbagai sumber yang kredibel.

LPKAN Indonesia juga menilai bahwa pembangunan di Papua Selatan harus dipahami secara utuh dan tidak hanya dilihat dari satu sisi.

“Pemerintah memiliki tanggung jawab konstitusional untuk menghadirkan pemerataan pembangunan, meningkatkan ketahanan pangan nasional, memperkuat konektivitas wilayah, membuka lapangan kerja, serta memperluas akses masyarakat terhadap pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur dasar,” katanya.

Di sisi lain, pembangunan tersebut wajib menghormati hak-hak masyarakat adat, menjaga kelestarian lingkungan hidup, dan memastikan partisipasi publik yang bermakna.

“Kami menolak segala bentuk generalisasi yang menyatakan bahwa seluruh masyarakat adat Papua memiliki pandangan yang sama terhadap pembangunan. Realitas sosial di Papua sangat beragam,” ujar Ali.

Terdapat kelompok masyarakat yang menyampaikan kritik dan kekhawatiran, namun terdapat pula kelompok yang berharap pembangunan mampu meningkatkan kesejahteraan dan membuka peluang ekonomi bagi generasi mendatang. Oleh sebab itu, pendekatan yang adil adalah mendengarkan seluruh suara yang ada secara seimbang.

LPKAN Indonesia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang beredar di media sosial tanpa proses verifikasi yang memadai.

“Informasi yang bersifat sepihak, provokatif, atau tidak didukung data yang dapat dipertanggungjawabkan berpotensi memperkeruh suasana dan menghambat penyelesaian berbagai persoalan secara konstruktif,” jelasnya.

Sebagai bentuk kontribusi terhadap penyelesaian polemik yang berkembang, LPKAN Indonesia merekomendasikan:

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *