Oleh: Adi Suparto
Pencabutan Ketetapan MPRS Nomor XXXIII/MPRS/1967; keputusan politik yang menghapus tuduhan pengkhianatan terhadap Ir. Soekarno; disambut apresiasi mendalam dari Megawati Soekarnoputri. Reaksi ini bukan sekadar pernyataan politik biasa, karena ia menempati posisi unik: anak kandung sekaligus pewaris sah pemikiran, perjuangan, dan otoritas sejarah Sang Proklamator.
Peristiwa ini bukan hanya soal hubungan antar pemimpin negara, melainkan memiliki empat makna politik utama, tidak hanya terbatas pada keberhasilan Prabowo atau pergeseran pengaruh Jokowi.
Berikut analisisnya, menempatkan posisi Megawati sebagai poros utama peristiwa ini.
Makna 1:
Bagi Megawati: Penyelesaiqn Luka Sejarah Pengukuhan Otoritas Politik dan Ideologis
Ini adalah makna paling utama dan paling mendasar, yang sering terlewatkan jika hanya melihat dari sudut kekuasaan semata.
Megawati bukan tokoh politik biasa. Ia adalah:
- Anak biologis langsung Soekarno:
Selama 56 tahun, ia dan keluarga menanggung beban sejarah, rasa sakit, dan ketidakadilan karena ayahnya dicabut kekuasaan, dituduh berkhianat, tanpa ada sidang, bukti, atau proses hukum apa pun . Apresiasinya yang tulus, bahkan disertai emosi, adalah ungkapan kelegaan pribadi dan keluarga yang paling lama menanti keadilan. - Anak ideologis & pewaris tunggal:
Ia adalah pemimpin yang memegang erat dan meneruskan seluruh gagasan dasar negara: nasionalisme, kedaulatan rakyat, persatuan Indonesia. Bagi pendukung setia, keputusan ini bukan hanya membersihkan nama ayahnya, tapi mengukuhkan kembali kebenaran ideologi yang selama ini diperjuangkan Megawati dan PDIP. - Satu-satunya tokoh yang menghubungkan masa lalu, sekarang, dan masa depan: Di mata rakyat, hanya Megawati yang memiliki otoritas moral untuk menilai apakah sejarah diperbaiki dengan benar atau tidak. Apresiasinya menjadi pengakuan tertinggi bahwa langkah pemerintah sah dan benar secara sejarah.
Makna politiknya: Dengan pencabutan ini, posisi Megawati semakin kokoh dan tak tergoyahkan sebagai penjaga nilai dasar negara. Ia bukan sekadar ketua partai, melainkan simbol kesinambungan sejarah bangsa. Ini modal politik terbesarnya, jauh di atas kekuasaan jabatan apa pun.
Makna 2:
Bagi Pemerintah Prabowo: Kemenangan Politik dan Legitimasi Tinggi
Langkah Prabowo mengambil inisiatif menyelesaikan masalah sejarah ini, mendapat apresiasi langsung dari Megawati, membawa dampak positif besar:
- Mendapat dukungan moral dan politik dari kekuatan terbesar kedua di Indonesia, yang dulu sempat dingin pasca pemilu
- Menunjukkan keberanian dan kebijaksanaan: berani menyelesaikan apa yang belum selesai selama puluhan tahun
- Memperkuat citra sebagai pemimpin pemersatu, bukan pemimpin kelompok, serta memperoleh legitimasi luas di seluruh lapisan masyarakat
- Hubungan kerja sama dengan PDIP kini berada di posisi terbaik, stabilitas politik nasional semakin terjamin.
Singkatnya: Ini adalah langkah politik cerdas yang memperkuat posisi pemerintahannya secara nyata.
Makna 3:
Bagi Jokowi: Transisi Pengaruh Bukan Penghilangan Peran

