JAKARTA, Harnasnews – Bangsa yang tidak menguasai cara berpikirnya sendiri pada akhirnya akan menjalankan kepentingan orang lain dengan tangannya sendiri. Hal itu diungkapkan Peneliti Ekopol Pancasila di Nusantara Centre, Firdaus Syamsu dalam dalam keterangan tertulisnya, yang diterima redaksi, Selasa (29/9/2026).
Menurut Firdaus, penjajahan modern tidak selalu datang dengan kapal perang, bendera asing, atau pendudukan wilayah. Ia dapat hadir melalui teori, metodologi, indikator, regulasi, institusi, dan cara mendefinisikan masalah.
“Ketika suatu bangsa menerima begitu saja cara orang lain menjelaskan dirinya, bangsa itu bukan hanya meminjam teori. Ia sedang berisiko meminjam cara melihat dunia, cara menentukan kebijakan, bahkan cara menentukan masa depannya sendiri,” kata Firdaus.
Ia menilai, pertarungan paling menentukan bagi Indonesia saat ini bukan hanya pertarungan ekonomi atau politik, melainkan pertarungan epistemologi. Siapa yang menentukan apa yang disebut masalah, ukuran keberhasilan, dan kebijakan yang dianggap rasional, di balik itu semua terdapat cara berpikir, paradigma, kepentingan, serta konfigurasi kekuasaan.
Lahir dari Kegelisahan
Mazhab Tebet, lanjut Firdaus, lahir dari kegelisahan sederhana tetapi mendasar: mengapa Indonesia sering gagal membaca dirinya sendiri. Bangsa yang memiliki sumber daya alam, pasar besar, dan pengalaman sejarah panjang justru berkali-kali menjalankan kebijakan dengan ukuran yang dibentuk oleh cara berpikir dari luar.
Forum ini, kata dia, bukan sekadar forum pemikiran atau kumpulan kritik terhadap pemerintah, pasar, maupun kapitalisme. Mazhab Tebet adalah ikhtiar membangun instrumentasi metodologis untuk membaca Indonesia dari dalam realitas Indonesia sendiri.
“Realitas tidak diterima begitu saja sebagaimana dikemas oleh penguasa, pasar, media, akademisi, ataupun lembaga internasional. Realitas harus dibongkar. Siapa yang membuat konstruksinya? Dengan teori apa ia dibangun? Kepentingan apa yang bekerja di belakangnya?” jelasnya.
Senjata 3K, 5C, 7P dan 7i
Firdaus memaparkan senjata metodologis Mazhab Tebet:
Pertama, 3K: Konsistensi, Koherensi, dan Korespondensi. Menguji apakah gagasan teguh secara internal, saling terhubung secara logis, dan memiliki hubungan dengan kenyataan empiris.

