Achsanul Qosasi: Piala Dunia Harus Beri Dampak Besar bagi Sepak Bola!

Harnasnews
3 Min Read
Foto AQ Mengenang Kembali Momentum Ikonis Pada Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.

Kemudian, ⁠keriuhan Vuvuzela. Terompet khas Afrika Selatan yang bising namun ikonik, berhasil memberikan atmosfer unik di setiap pertandingan. Serta, lahirnya para pemain ajaib. Edisi ini menjadi panggung pembuktian generasi emas sepak bila, mulai dari Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Andres Iniesta, hingga kejutan dari Asamoah Gyan.

Meski Afrika Selatan begitu berkesan, dalam hal manajemen dan kepuasan secara keseluruhan, pandangan Prof. AQ tetap tertuju pada Benua Biru.

Menurutnya, standar tertinggi penyelenggaraan Piala Dunia masih dipegang oleh Jerman saat menjadi tuan rumah pada tahun 2006 silam.

“Namun dalam hal Penyelenggaraan Piala Dunia 2006 di Jerman, masih yang terbaik karena kepuasan suporter dan peserta yang hadir saat itu, ditambah drama seruduk dari Zidane,” tegas Prof. AQ.

Baginya, harmoni antara kenyamanan penonton, fasilitas bagi tim peserta, hingga bumbu drama historis seperti kartu merah Zinedine Zidane di partai final, membuat Piala Dunia 2006 menjadi mahakarya penyelenggaraan yang belum tertandingi hingga saat ini.

Melalui refleksi sejarah ini, AQ berharap standar tinggi yang pernah dicapai Jerman dan kemeriahan budaya di Afrika Selatan dapat melebur dalam gelaran Piala Dunia periode ini, demi kemajuan sepakbola yang lebih luas. (Sib)

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *