AS Langgar Gencatan Senjata, Ini Respon Dunia

Harnasnews
4 Min Read
Dr. Drs.Adi Suparto,M.Pd, SH,MH.(Foto:Yahman)

📌 Negara Teluk (Arab Saudi, UEA, Kuwait):

  • Paling cemas, mendesak segera hentikan tembak-menembak. Takut konflik melebar dan ekonomi hancur.
  • Menyalahkan kedua belah pihak, tapi lebih banyak menekan AS: “Jangan uji batas, damai lebih penting”. Minta PBB turun tangan.

📌 Perserikatan Bangsa-Bangsa:

  • Sekretaris Jenderal sangat prihatin, sebut situasi paling berbahaya sejauh ini. Minta kedua pihak patuhi kesepakatan, kembali meja rundingan.
  • Dewan Keamanan bersidang darurat, belum ada keputusan tegas karena AS punya hak veto.

📌Eropa:

  • Kecam pelanggaran, tapi nada lembut. Khawatir pasokan energi dan ekonomi kacau.
  • Prancis/Jerman: “AS jangan ambil langkah sepihak, damai lewat dialog saja”. Ingin jadi penengah, tapi tak berdaya.

📌 China & Rusia:

  • Keras mengecam AS. Sebut serangan tak beralasan, melanggar hukum internasional, biang kerok ketidakstabilan .
  • Dukung posisi Iran, peringatkan: “Kalau selat ditutup total, AS yang disalahkan dunia”.

📌 Negara Asia & Afrika:

  • Mayoritas kecewa berat. Ekonomi mereka sangat bergantung jalur ini.
  • Indonesia, Jepang, India: “Kami butuh selat aman, jangan jadikan senjata politik”. Desak netralitas.

📌 Pasar Keuangan:

  • Harga minyak langsung melonjak 8–10%. Dolar melemah. Emas naik tajam.
  • Dunia usaha panik, premi asuransi kapal naik lagi drastis.

AnalisisPeristiwa

Penulis beranggapan bahwa pelanggaran ini bukti nyata: AS makin terdesak, makin tidak berdaya, tapi nekat.

  • Dari penentu aturan jadi pihak yang harus main curang supaya tidak kalah.
  • Gencatan senjata ternyata cuma alat sementara, bukan niat damai.
  • Dunia makin paham: kekuasaan AS sudah tak mutlak; hukumnya cuma berlaku saat menguntungkan dirinya sendiri.

Sekarang pilihannya makin sempit: damai yang merugikan AS, atau perang yang hancurkan ekonomi dunia. Dan sekali lagi, Iran jadi kunci sekaligus tumbal sejarah. (ulasan Penulis Selasa 26/5)

“Siapa kuasai jalur, dia kuasai ekonomi. Tapi kalau kuasa itu dipaksakan melanggar janji, justru itulah awal kehancuran kekuasaan itu sendiri” ***

Penulis: Analis Politik dan Kebijakan Pulik
.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *