Herzaky mengatakan, Yusril dan Moeldoko memiliki karakteristik yang sama, yaitu ambisius dan egomaniak. Dengan kata lain, mereka akan melakukan apa saja untuk mencapai ambisinya.
Pembicaraan Moeldoko dan Yusril, kata Herzaky, terjadi melalui rapat daring melalui Zoom pada awal Agustus 2021. Strateginya, Moeldoko sebagai dalang, Yusril adalah wayangnya, dengan pemeran pembantunya adalah para pemohon gugatan terhadap anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) Partai Demokrat.
Menurut Herzaky, setiap kontrak profesional pasti ada bayarannya, dan hal itu wajar. Sehingga, ia meminta agar Yusril mengakui dirinya membantu Moeldoko demi rupiah, jangan mengaku berkorban demi demokrasi.
Kalau benar demi demokrasi, benarkan dulu AD/ART partainya Pak Yusril (Partai Bulan Bintang). Itu baru masuk akal,” ucapnya.
Selain itu, Herzaky juga menilai bahwa Yusril tidak paham aturan atau belum membaca aturannya. Yaitu jika keberatan dengan AD/ART, maka diajukan ke mahkamah partai, bukan Mahkamah Agung.
Sebelumnya, polemik antara Partai Demokrat versi AHY dengan Demokrat Kubu Moeldoko yang melakukan Kongres Luar Biasa (KLB) di Deli Serdang, terus berlanjut. Kubu Moeldoko menunjuk Yusril Ihza Mahendra sebagai kuasa hukum untuk menggugat AD/ART Partai Demokrat Kubu AHY yang dinilai cacat.(sof)

