Kendati demikian, kata Adi, terlepas dari berbagai spekulasi yang beredar, satu hal yang patut diapresiasi, Perry memilih mundur dengan cara yang terhormat dan elegan. “Perry tidak meninggalkan kursi itu dihantam badai skandal atau paksa turun, melainkan menyerahkan estafet kepemimpinan demi alasan kemanusiaan yang paling mendasar, kesehatan dan kebutuhan istirahat,” jelasnya.
Pihaknya juga menilai bahwa mundurnya Perry menjadi pengingat betapa beratnya amanah menjaga denyut nadi ekonomi negara. “Di balik layar kestabilan yang kita nikmati, ada beban pikul para pemimpinnya yang tak selalu terlihat mata. Kini, tongkat estafet beralih. Tugas kita berikutnya adalah mendukung suksesi kepemimpinan ini agar ekonomi bangsa tetap kokoh melangkah ke depan,” tutup Adi.

