Ada dua momen besar yang membuktikan kekuatan toleransi ini:
- Peristiwa Kapal Ertuğrul (1890)
Kapal Kesultanan Utsmaniyah yang berlayar untuk persahabatan tenggelam di pantai Jepang. Warga Jepang setempat tanpa ragu menolong, merawat, dan menyelamatkan awak kapal Muslim itu dengan penuh kasih sayang dan hormat. Di sisi lain, para awak kapal itu juga menjaga adab dan ajaran agama mereka, tidak mengganggu warga sekitar. Pertemuan ini menanamkan kesan: Islam itu agama yang damai, dan umatnya orang-orang yang bisa dipercaya dan berteman baik. Inilah pintu awal terbukanya hati bangsa Jepang.
- Kedatangan Komunitas Muslim (Awal Abad 20)
Pengungsi Muslim dari Rusia/Tatar, pedagang dari Asia Tenggara dan India datang hidup bermukim. Mereka tidak mengajak pindah agama dengan cara kasar, melainkan hidup rukun, berdagang jujur, berbuat baik, dan tetap menghormati adat istiadat Jepang. Warga lokal melihat keseharian mereka, keteraturan ibadah, dan kedamaian hati yang mereka miliki. Lambat laun, rasa ingin tahu berubah menjadi kekaguman, lalu tumbuh kesadaran untuk mempelajari lebih dalam hingga akhirnya memeluk Islam.
Profesor Emeritus Hirofumi Tanada dari Universitas Waseda, Tokyo mengatakan, dahulu masjid sangat langka, namun kini jumlahnya meningkat hingga lebih dari 113 masjid di seluruh penjuru Jepang. Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, masjid-masjid ini, seperti Tokyo Camii, juga menjadi pusat edukasi dan kegiatan kebudayaan yang terbuka bagi publik.
Poin Penting: Bagi bangsa Jepang, Islam diterima bukan karena dipaksa, tapi karena nilai toleransi, kedamaian, dan keadilan yang diajarkannya terbukti nyata dalam kehidupan umatnya. Islam dianggap pelengkap nilai budaya mereka, bukan pengganti atau penghancur budaya.
Hasilnya: Kesadaran Yang Terus Tumbuh
Kini, meski jumlahnya belum besar, komunitas Muslim Jepang tumbuh kokoh, dan semakin banyak yang masuk Islam atas dasar kesadaran sendiri. Alasan utama mereka:
- Menemukan kedamaian batin yang dicari.
- Menemukan kebenaran yang logis dan damai.
- Terpukau pada ajaran yang sangat menghargai manusia dan keberagaman.
Kesimpulan
Sejarah masuknya Islam di Jepang adalah bukti nyata bahwa toleransi adalah kekuatan dakwah terbesar. Ketika Islam ditampilkan dalam wujud damai, menghargai orang lain, dan beretika luhur, ia akan dengan mudah merasuk masuk ke dalam hati siapa saja, termasuk bangsa Jepang yang sangat teguh pada tradisi dan budaya luhurnya sendiri. Islam datang sebagai sahabat, bukan musuh; sebagai pelengkap kebaikan, bukan penghapus nilai luhur yang sudah ada. ***

