Melalui senam otak, peserta dilatih meningkatkan fokus, koordinasi, dan ketepatan pengambilan keputusan di lapangan. Senam hati mengajak peserta melakukan refleksi diri guna menumbuhkan empati dan semangat melayani, sementara hipnoterapi motivasional digunakan untuk memperkuat mental, kepercayaan diri, dan komitmen berintegritas.
Dalam pemaparannya, Dr. Ketut Abid Halimi menegaskan bahwa kualitas pelayanan Polantas tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga kesiapan mental dan karakter personel.
”Menjadi Polantas bukan sekadar mengatur arus kendaraan, melainkan menghadirkan rasa aman bagi masyarakat. Ketika pikiran terlatih untuk fokus, hati dipenuhi empati, dan mental tetap kuat, pelayanan yang diberikan akan melahirkan kepercayaan publik. Inilah nilai yang ingin dibangun melalui Polantas KARIB,” ujarnya.
Ia menambahkan, tantangan tugas kepolisian di era modern menuntut personel cerdas bertindak sekaligus mampu menjaga keseimbangan emosi agar setiap keputusan tetap profesional dan humanis.
Antusiasme peserta tampak tinggi sepanjang sesi berlangsung. Selain memperluas wawasan pengembangan diri, para peserta juga mempraktikkan langsung teknik-teknik yang dapat diterapkan dalam menunjang tugas sehari-hari.
Rakernis ditutup dengan penyerahan penghargaan kepada para pemenang Call for Papers serta cenderamata kepada narasumber. Melalui kegiatan ini, Polda Kalsel menegaskan bahwa transformasi pelayanan lalu lintas tidak hanya bertumpu pada kemampuan teknis dan inovasi, tetapi juga penguatan karakter, kesehatan mental, dan budaya melayani demi menghadirkan semangat Polantas KARIB di tengah masyarakat. (*dbs/red)

