Kenangan Yusuf Blegur Tentang Guruh Soekarno Putra: Seni Adalah Pengabdian, Bukan Sekadar Seni

Pusat
4 Min Read
Yusuf Blegur bersama Guruh Soekarno Putra

JAKARTA, Harnasnews – Kabar duka wafatnya maestro seni dan politikus Mohammad Guruh Irianto Soekarno Putra pada Sabtu 26 September 2026 pukul 04.16 WIB di RS MRCCC Siloam Semanggi Jakarta, mengundang kenangan mendalam dari berbagai kalangan.

Salah satunya datang dari Direktur Eksekutif Institute for Public Policy Strategic (IPPS) yang juga aktivis, Yusuf Blegur. Ia membagikan catatan reflektif tentang sosok putra bungsu Bung Karno dari pasangan Fatmawati itu.

“Sejak kecil hingga dewasa, penulis mengenal Guruh Soekarno Putra sebagai seorang seniman dan idealis. Guruh menjadikan seni bukanlah sebagai seni semata, melainkan sebagai pengabdian sekaligus rasa syukur pada Kebesaran Sang Pencipta, kemanusiaan, dan Persada Indonesia,” ujarĀ  Yusuf dalam keterangan tertulisnya yang diterima Harnasnews, Minggu (27/9/2026).

Menurut Yusuf, Muhammad Guruh Irianto Soekarno Putra tidak sekadar anak proklamator dan presiden pertama Indonesia, bukan juga sekadar politisi dan pengusaha. “Mas Guruh biasa dipanggil, adalah seorang maestro dalam berkesenian dan berkebudayaan. Guruh kerap membangun spirit nasionalisme dan patriotisme dalam cara yang tak biasa dan umum,” ujarnya.

Yusuf mengenang, lewat Swara Mahardika, Guruh Gipsy, hingga Gencar Semarak Perkasa (GSP), Guruh tak pernah lelah menyuarakan idealisme dalam manifestasi pagelaran musik dan sendratari. Kreasi dan orkestrasi yang memadukan budaya tradisional, nasional, dan internasional.

“Pria yang pernah belajar arkeologi di Belanda, mengokohkan figurnya bukan hanya mewariskan darah negarawan dan pemimpin besar Bung Karno. Guruh semasa mudanya telah menjadi seniman kuat dan berkarakter terlebih dalam urusan cipta lagu dan tari, produksi dan manajemen hingga koreografi dan pementasan maha karya,” kata Yusuf.

Kini, Guruh telah tiada di usia 73 tahun, namun karya-karyanya seperti Untukmu Indonesiaku, Gilang Gemilang Indonesia, Kala Sang Surya Tenggelam, Melati Suci, dan Zamrud Khatulistiwa disebutnya tak akan pernah terhapus dalam jejak sejarah.

Yusuf pun membagikan irisan personalnya dengan keluarga Bung Karno. Sebagai anak dari Ismail Blegur, yang akrab dipanggil Rudy oleh Putra-Putri Bung Karno, ia mengaku sejak usia SD sudah sering diajak berkunjung, dikenalkan, hingga dianggap kerabat oleh keluarga besar tersebut.

Share This Article