Kenangan Yusuf Blegur Tentang Guruh Soekarno Putra: Seni Adalah Pengabdian, Bukan Sekadar Seni

Pusat
4 Min Read
Yusuf Blegur bersama Guruh Soekarno Putra

“Sebagai anak dari seorang rakyat jelata yang bekerja dan dianggap abdi dalam hingga memiliki kedekatan dan mendapat perlakuan bagai kerabat dari Putra-Putri Bung Karno terutama Guruh,” ungkapnya.

Sejumlah momen membekas. Sejak anak-anak ia tak pernah ketinggalan menyaksikan langsung pagelaran seni Mas Guruh antara lain Untukmu Indonesiaku hingga Kembalikan Baliku, karena ayahnya dipercaya mengurus hampir semua perizinan pagelaran Guruh.

Saat SMA, sebagai pengelola Majalah Sekolah SMAN 52 Jakarta Utara, ia berkesempatan membawa kru redaksi untuk wawancara Guruh di kediamannya untuk cover majalah. “Luar biasa, untuk majalah sekolah bisa mencetak oplah besar dan penjualan meski sebatang majalah sekolah karena figur Guruh Soekarno Putra di dalamnya,” kenangnya.

Kedekatan itu berlanjut hingga ia menjadi Presidium GMNI, dilibatkan penuh dalam Peringatan 100 Tahun Bung Karno tahun 2000-2005 yang diselenggarakan Yayasan Bung Karno (YBK) yang dipimpin Mas Guruh. Sebelumnya ia juga terlibat dalam Peringatan 90 Tahun Bung Karno tahun 1991 di bawah Ibu Rachmawati Soekarnoputri.

Terakhir, pada periode 2007-2012 ia bergabung dalam perkumpulan Gerakan Spirit Pancasila di bawah naungan Mas Guruh. “Dalam momen itu penulis banyak terlibat pembahasan dialektis serta pelbagai konsep dan praksis kegiatan sosial politik bersama Mas Guruh,” tulisnya.

“Guruh tentu saja pergi selama-lamanya, jasadnya boleh saja hilang ditelan bumi. Namun semangatnya, spiritnya, dan hasrat idealismenya tak hanya menjadikan seni sebagai seni semata. Melalui Seni Guruh mengajarkan betapa seni adalah alat perjuangan dan pengabdian untuk persada Indonesia. Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun, selamat tinggal dunia dan selamat datang pada di alam yang hakiki. In syaa Allah Husnul khotimah, Mas Guruh,” pungkasnya.

Guruh Soekarnoputra dikabarkan akan dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta Selatan, di sisi makam ibunya, Fatmawati. Kepergiannya pun mendapat belasungkawa dari Presiden Prabowo Subianto hingga PDI Perjuangan. (Edr)

Share This Article