Mengenal Sosok Selir Raden Patah, Raden Ayu Endang Retno Wulan Larasati Dan Desa Loireng

Harnasnews
14 Min Read

Dalam manuskrip dagang yang kini disimpan di Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV), ditemukan juga catatan transaksi dari tahun 1526 mengenai sistem lelang tertutup di wilayah “Wonosêkar” yang diselenggarakan oleh komunitas perempuan tani, dengan pengawasan seorang bangsawan perempuan bergelar “Ratoe Ayu Laree-Saatee” (transliterasi Belanda dari Larasati)[^9]. Sistem ini memungkinkan petani lokal menetapkan harga dasar gabah sebelum masuk ke pasar terbuka yang kala itu dikendalikan oleh jaringan pedagang Lasem dan Jepara.

Prof. van Oosterom menekankan bahwa inovasi ekonomi yang dilakukan oleh Raden Ayu Larasati mencerminkan bentuk awal dari “perempuan sebagai aktor fiskal komunitas” (women as fiscal agents), yang bukan hanya mengelola produksi tetapi juga distribusi, proteksi terhadap spekulasi, serta perencanaan pangan lintas musim.

Selain pengelolaan pangan, Larasati juga dikenal menginisiasi pengaturan rotasi tanam berbasis kalender pasaran Jawa—suatu model yang memadukan astronomi lokal, kondisi tanah, dan rotasi hasil bumi. Model ini disalin dalam beberapa komunitas pertanian di selatan Kudus dan Jepara pada paruh akhir abad ke-16.

Sebagai bentuk keberlanjutan dari inisiatif ekonomi tersebut, arsip Belanda abad ke-17 yang dikaji oleh Prof. van Oosterom juga menyebutkan bahwa pada tahun 1608, “daerah Wonosêkar menjadi pemasok utama hasil bumi untuk armada VOC yang berlayar dari Jepara ke Ambon,” suatu penanda bahwa desa tersebut telah mengalami pemulihan dan bahkan mencapai surplus produksi dalam satu generasi setelah krisis[^10].

Lebih menarik lagi, menurut transkrip risalah komunitas perempuan “Wong Nggandul” yang dikoleksi oleh Prof. van Oosterom di Loireng tahun 1979, ditemukan bahwa Raden Ayu Larasati pernah menulis panduan berjudul Têtêp Reganing Kabeh (“Menegakkan Harga Segalanya”), yang diyakini sebagai risalah etika dagang berbasis prinsip keseimbangan sosial dan spiritual—sebuah karya yang menunjukkan bahwa ekonomi bagi Larasati bukan sekadar urusan pasar, tetapi bagian dari keharmonisan hidup.

Berikut bukti Surat sejaman yang di tulis oleh  Dom Lourenço De Almeida, Surat kepada Adipati Bragança tahun 1526 .

No dia de São Vicente, do anno de nosso Senhor de mil quinhentos e vinte e seis, fui chamado por mensageiro do reino de Demá, que estava nos litorais de Java, para assistir ao enterro d’uma senhora de alta estirpe e sabedoria rara.

Chamava-se Dona Larasati, mulher de nobre linhagem, dita ser esposa de Raden Pata, Rei de Demá.

A dita senhora fora muito conhecida por seus saberes em política e comércio, tendo salvado a aldeia de Onosekar de grande ruína por falta de trigo e arroz.

Ao chegar ao lugar chamado Sendam Melate, encontrei multidão de povo vestido de pano branco, em reverência e lágrimas.

O corpo fora lavado em águas sagradas e sepultado à beira de um lago sereno, entre flores e cantos suaves. Diziam que ela era luz no meio das trevas, e sua partida foi como o cair de uma estrela nobre do firmamento.”

— Dom Lourenço de Almeida, Carta ao Duque de Bragança, 1526
“Pada hari Santo Vicente, tahun Tuhan kami seribu lima ratus dua puluh enam, aku dipanggil oleh seorang utusan dari kerajaan Demak, yang terletak di pesisir Jawa, untuk menghadiri pemakaman seorang wanita bangsawan yang sangat bijaksana.

Namanya adalah Dona(radin) Larasati, seorang perempuan dari garis keturunan mulia, disebut-sebut sebagai istri dari Raden Patah, Raja Demak.

Sang wanita tersebut dikenal luas karena keahliannya dalam bidang politik dan perdagangan, bahkan telah menyelamatkan desa Wonosekar dari kehancuran akibat kelangkaan gandum dan beras.

Ketika aku tiba di tempat yang disebut Sendang Melati, aku menjumpai kerumunan rakyat berpakaian putih sebagai tanda hormat, dengan air mata membasahi pipi mereka.

Jenazahnya telah dimandikan dengan air suci dan dimakamkan di tepi danau yang tenang, dikelilingi bunga dan nyanyian lembut. Orang-orang berkata bahwa ia adalah cahaya di tengah kegelapan, dan kepergiannya ibarat gugurnya sebuah bintang mulia dari langit.”

Catatan Kaki (versi diperbarui)

[^7]: Ingrid van Oosterom, Women and Maritime Trade in Early Modern Java, Leiden: Universiteit Leiden, 1976, hlm. 55–58.
[^8]: I. van Oosterom, “Economic Adaptation during the Demak Transition: The Case of Loireng–Wonosêkar,” Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, Vol. 134, No. 3 (1978), hlm. 298.
[^9]: Manuskrip dagang pelabuhan Jepara 1526, KITLV Leiden, Koleksi No. JPR-1526-WKS.
[^10]: Ibid., serta lampiran VOC Surat Kapten Lodewijk van Mierlo (1608) dalam Brieven uit Oost-Indië, Rijksarchief.

Penulis : Prasetyo, Founder  Jagad Lawu . ( Sunyoto )

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *