” Setiap Weton menusia akan mempunyai ciri khas masing-masing. Karena pada tubuh manusia yang lahir itu membawa DNA dan Cromosom dari para leluhurnya yang menyatu pada hari kelahirannya atau Weton lahirnya” ujar Prasetyo.
Selain DNA para leluhur, setiap bayi yang lahir ( Weton ) juga membawa ilmu pengetahuan, karma, dan pengalaman para leluhurnya. ” Sehingga tidak heran, kadang kita merasakan sesuatu yang belum pernah kita lakukan , tapi seolah kita pernah mengalaminya” paparnya.
Saat ini Prasetyo sedang mengembangkan sebuah aplikasi yang bisa membaca karakter dan jenis penyakit yang ada pada tubuh manusia melalui Weton dan foto telapak tangan dan lidah.
” Dari basic ilmu leluhur itu, kami dari Sengkelad Jagad Lawu sedang membuat dan mengembangkan sebuah metode pengobatan dengan bantuan AI. Hampir 16,5 giga byte data telah kami masukan. Data tersebut bersumber dari hampir 300 manuskrip pengobatan Jawa masa lalu. Dengan demikian nantinya bisa membantu rekan – rekan budayawan dan praktisi pengobatan tradisional dalam mendiaknosa penyakit dan cara penyembuhanya ” terang nya.
Ketua Himpunan Penghayat Kepercayaan ( HKP ), Tony Hatmoko, mengatakan, kegiatan sarasehan ini rutin di gelar untuk terus menjaga dan melestarikan warisan leluhur Jawa.
” Sarasehan ini sudah sering Kita lakukan, tempatnya bisa berganti-ganti. Sekarang di gedung dewan, sebelumnya kita buat di Pablengan, di Giyanti, di Candi Sukuh, bahkan pernah juga di Gunung Lawu ” ujarnya.
HKP sendiri mulai aktif sejak tahun 2023 dan menghimpun tidak kurang dari 10 organisasi Penghayat Kepercayaan di sekitar Kabupaten Karanganyar. (Sunyoto )
