Haidar Alwi: Pelemahan rupiah tidak boleh dibaca hanya sebagai persoalan pasar keuangan

Harnasnews
9 Min Read
Haidar Alwi

JAKARTA, Harnasnews – Sejarah ekonomi dunia menunjukkan bahwa kekuatan sebuah bangsa tidak pernah ditentukan oleh nilai tukar semata.

Jepang pernah mengalami berbagai tekanan ekonomi dan memiliki rasio utang publik yang jauh lebih tinggi dibanding banyak negara berkembang, namun yen tetap menjadi salah satu mata uang penting dunia karena ditopang oleh kapasitas industri, teknologi, dan produktivitas nasional yang kuat.

Korea Selatan juga tidak membangun won yang kuat terlebih dahulu untuk menjadi negara maju. Sebaliknya, negara tersebut membangun pendidikan, industri manufaktur, teknologi tinggi, dan daya saing ekspor selama puluhan tahun hingga akhirnya memiliki fondasi ekonomi yang kokoh.

Fakta-fakta tersebut mengajarkan bahwa mata uang yang kuat bukanlah titik awal pembangunan, melainkan hasil dari pembangunan yang berhasil.

Dalam konteks Indonesia, perhatian publik tertuju pada nilai tukar rupiah yang pada 29 Mei 2026 berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia berada di level Rp17.883 per dolar Amerika Serikat. Angka tersebut memunculkan beragam perdebatan.

Ada yang menyalahkan faktor global seperti penguatan dolar AS, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta tingginya ketidakpastian ekonomi internasional. Ada pula yang menyoroti faktor domestik seperti defisit fiskal, arus modal asing, dan persepsi investor terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.

Namun persoalan rupiah tidak dapat dipahami secara hitam-putih. Dalam ekonomi modern, nilai tukar merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang bekerja secara bersamaan.

Karena itu, pelemahan rupiah tidak boleh dibaca hanya sebagai persoalan pasar keuangan, tetapi juga sebagai momentum untuk mengevaluasi fondasi ekonomi nasional secara lebih menyeluruh.

Dalam konteks inilah, Ir. R. Haidar Alwi, MT Presiden Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, menilai bahwa Indonesia perlu menjaga keseimbangan antara kepercayaan pasar dan pembangunan Kedaulatan Produktif sebagai fondasi kekuatan ekonomi jangka panjang.

Menurutnya, pasar memiliki fungsi penting karena mencerminkan tingkat kepercayaan terhadap arah ekonomi sebuah negara. Namun bangsa tidak boleh menggantungkan seluruh masa depannya pada penilaian pasar jangka pendek.

Negara harus membangun Kedaulatan Produktif, yaitu kemampuan mengubah sumber daya alam, sumber daya manusia, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kelembagaan nasional menjadi nilai tambah yang berkelanjutan.

“Pasar dapat menilai kondisi hari ini, tetapi Kedaulatan Produktif menentukan kekuatan bangsa untuk puluhan tahun ke depan. Karena itu, Indonesia harus mampu menjaga kepercayaan pasar tanpa kehilangan keberanian membangun fondasi ekonominya sendiri,” tegas Haidar Alwi dalam keterangan tertulisnya, yang diterima Harnasnews, Senin  (01/6/2026).

“Pandangan tersebut membawa kita pada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah pelemahan rupiah semata-mata persoalan nilai tukar, atau justru bagian dari pelajaran besar mengenai cara sebuah bangsa membangun kekuatan ekonominya?” imbuh dia.

Rupiah Rp17.883 dan Pelajaran tentang Cara Kerja Ekonomi Modern

Lebih lanjut, dalam ilmu ekonomi internasional, nilai tukar tidak hanya ditentukan oleh permintaan dan penawaran valuta asing. Kurs juga dipengaruhi oleh neraca pembayaran yang terdiri atas transaksi berjalan dan transaksi modal.

Transaksi berjalan berkaitan dengan ekspor, impor, jasa, dan pendapatan internasional, sedangkan transaksi modal berkaitan dengan investasi dan pergerakan modal lintas negara.

Karena itu, pelemahan rupiah tidak dapat dijelaskan hanya melalui satu faktor tunggal. Penguatan dolar AS, tingginya suku bunga internasional, perubahan arus investasi global, serta ketegangan geopolitik memang memberikan tekanan terhadap banyak mata uang negara berkembang.

“Namun pada saat yang sama, kemampuan sebuah negara menghasilkan devisa, menjaga fiskal yang sehat, meningkatkan produktivitas, dan mempertahankan kepercayaan investor juga memiliki pengaruh yang signifikan,” kata Haidar Alwi.

Dia menilai banyak masyarakat mengira dolar kuat semata-mata karena Amerika Serikat adalah negara kaya. Padahal sebagian kekuatan dolar justru berasal dari posisinya sebagai mata uang cadangan dunia yang digunakan dalam perdagangan internasional, transaksi energi, investasi global, dan cadangan devisa berbagai negara.

Dengan kata lain, lanjut Haidar, kekuatan dolar bukan hanya soal kekayaan ekonomi Amerika, tetapi juga soal kepercayaan dan posisi strategisnya dalam sistem keuangan dunia.

“Di sinilah pentingnya membangun Literasi Kurs Nasional. Masyarakat perlu memahami bahwa kurs hanyalah salah satu indikator ekonomi, bukan keseluruhan gambaran tentang kesehatan sebuah bangsa,” ungkap Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB ini.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *