Haidar berpandangan, bahwa kesalahan pertama adalah menganggap rupiah melemah berarti Indonesia sedang runtuh. Kesalahan kedua adalah menganggap semua persoalan ekonomi berasal dari faktor global. Kesalahan ketiga adalah menganggap nilai tukar tidak ada hubungannya dengan produktivitas nasional.
“Padahal ekonomi modern jauh lebih kompleks. Rupiah adalah termometer yang memberi sinyal tertentu, tetapi kekuatan ekonomi sesungguhnya ditentukan oleh kemampuan bangsa membangun daya saing dan nilai tambah secara berkelanjutan,” ujar Haidar Alwi.
Karena itu, membaca rupiah secara cerdas berarti memahami hubungan antara faktor global, kebijakan domestik, dan produktivitas nasional secara bersamaan.
Mengapa Investor Membaca Risiko, Tetapi Bangsa Harus Membangun Kedaulatan Produktif
Dalam dunia investasi, investor selalu membaca masa depan. Mereka memperhatikan stabilitas politik, kepastian hukum, arah fiskal, kualitas institusi, dan prospek pertumbuhan ekonomi. Investor tidak membeli masa lalu. Mereka membeli kemungkinan yang akan terjadi di masa depan.
Karena itu, menjaga kepercayaan pasar tetap penting bagi Indonesia. Namun Haidar Alwi mengingatkan bahwa tidak semua modal memiliki kualitas yang sama. Ada modal jangka pendek yang sangat sensitif terhadap perubahan sentimen pasar atau dikenal sebagai hot money.
Ada pula investasi produktif yang masuk ke sektor industri, teknologi, manufaktur, infrastruktur, dan penciptaan lapangan kerja jangka panjang.
Menurutnya, salah satu kesalahan berpikir yang sering muncul adalah mempertentangkan investor dengan rakyat. Padahal keduanya tidak seharusnya diposisikan sebagai dua kepentingan yang saling berlawanan.
“Investor membutuhkan negara yang produktif, sementara rakyat membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang mampu menciptakan kesejahteraan,” paparnya.
Dia mencontohkan, bahwa Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok memberikan pelajaran yang sama. Negara-negara tersebut tidak membangun kekuatan ekonominya melalui spekulasi nilai tukar, melainkan melalui peningkatan produktivitas, penguasaan teknologi, penguatan industri nasional, dan investasi besar pada kualitas sumber daya manusia.
Haidar menyebut bahwa kedaulatan produktif adalah kemampuan bangsa menciptakan nilai tambah dari kekayaan dan kemampuan yang dimilikinya sendiri. Investor yang baik akan menghargai negara yang memiliki kedaulatan produktif karena di situlah terdapat daya tahan ekonomi yang sesungguhnya.
Modal dapat membantu mempercepat pembangunan, tetapi produktivitas rakyat adalah mesin yang menggerakkan pembangunan itu sendiri. Semakin tinggi produktivitas nasional, semakin kuat pula fondasi kepercayaan terhadap masa depan ekonomi sebuah bangsa,” jelas Haidar Alwi.
Karena itu, menjaga kepercayaan investor dan membangun produktivitas nasional bukanlah dua tujuan yang saling bertentangan, melainkan dua fondasi yang harus saling memperkuat.
Dari Pasal 33 UUD 1945 Menuju Arsitektur Kedaulatan Produktif Indonesia
Di tengah perdebatan antara pasar dan negara, Indonesia sesungguhnya telah memiliki kompas konstitusional yang jelas melalui Pasal 33 UUD 1945.
Para pendiri bangsa memahami bahwa pasar memiliki kemampuan menciptakan efisiensi, tetapi pasar tidak selalu menghasilkan keadilan sosial. Karena itu, perekonomian nasional dirancang untuk memadukan pertumbuhan ekonomi dengan kemakmuran rakyat.
Dalam perspektif tersebut, pembangunan ekonomi Indonesia tidak boleh hanya mengejar angka-angka jangka pendek, tetapi juga harus memperkuat fondasi jangka panjang melalui hilirisasi industri, ketahanan pangan, ketahanan energi, modernisasi pertanian, pengembangan koperasi produktif, penguatan UMKM berbasis ekspor, pendidikan, riset, dan penguasaan teknologi.
Menurut Haidar Alwi, banyak negara kaya sumber daya alam tetap tertinggal karena gagal mengubah kekayaannya menjadi produktivitas. Sebaliknya, banyak negara yang relatif miskin sumber daya mampu menjadi kekuatan ekonomi dunia karena berhasil membangun ilmu pengetahuan, teknologi, industri, dan kualitas manusianya.
Haidar memaparkan, bahwa bangsa yang hanya mengejar kepercayaan pasar akan selalu cemas menunggu penilaian pasar berikutnya. Tetapi bangsa yang membangun kedaulatan produktif akan memiliki fondasi yang lebih kokoh karena kekuatannya lahir dari kemampuan rakyat menciptakan nilai tambah. Investor dapat menjadi mitra perjalanan, namun produktivitas rakyat adalah mesin yang menentukan arah perjalanan itu sendiri.
“Ketika bangsa mampu menjaga keseimbangan antara kepercayaan pasar dan Kedaulatan Produktif, di situlah lahir kekuatan ekonomi yang bukan hanya tangguh menghadapi gejolak global, tetapi juga mampu menjaga martabat dan masa depan bangsa dalam jangka panjang. Rupiah yang kuat pada akhirnya bukanlah tujuan akhir, melainkan konsekuensi dari bangsa yang berhasil membangun peradabannya sendiri,” pungkas Haidar Alwi.

