- Evaluasi menyeluruh: Tinjau ulang seluruh perguruan tinggi dan program studi; bina dan perkuat yang berpotensi, perbaiki yang kurang, dan hentikan yang nyata-nyata tidak mampu memenuhi standar minimum.
- Ketatkan izin pendirian: Berikan izin baru hanya jika syarat mutlak terpenuhi, terutama ketersediaan rumah sakit pendidikan lengkap dan tenaga pengajar tetap yang cukup jumlahnya.
- Perluas penilaian kualitas: Gunakan berbagai lembaga penilaian dan standar, agar kualitas terukur secara jujur dan menyeluruh.
- Jaga kualitas pendidikan profesi: Pastikan masa koas berjalan maksimal, bukan sekadar formalitas administrasi.
- Pertahankan standar ujian: Jangan pernah kompromi soal ambang batas kelulusan, karena di sanalah letak garis pemisah antara dokter yang siap mengabdi dengan yang belum.
- Arahkan pada pengabdian: Bangun sistem penempatan yang mendorong dokter melayani di mana yang paling dibutuhkan oleh negara.
Kesimpulan
Indonesia adalah bangsa besar yang sangat membutuhkan banyak tenaga terampil, termasuk dokter. Namun satu hal yang pasti: jumlah yang banyak tak akan berarti apa-apa jika tidak dibarengi dengan kualitas yang terjamin. Membuka banyak kampus memang mudah dan cepat, namun membangun kualitas, kemampuan, dan karakter butuh kesungguhan, waktu, dan standar yang teguh.
Menata kembali pendidikan tinggi adalah tugas mulia demi masa depan bangsa. Mari kita berani berubah: perlahan tinggalkan kebanggaan semata pada angka statistik, dan mulai banggakan mutu lulusan. Sebab pada akhirnya, kualitas pendidikanlah yang menentukan kualitas peradaban bangsa, dan kualitas dokterlah yang menjadi penentu keselamatan nyawa rakyat.
Tulisan ini kami sampaikan semata sebagai bahan renungan dan masukan tulus, agar semua, lembaga pendidikan, pemerintah, maupun masyarakat, bisa berjalan beriringan memajukan dunia pendidikan dan kesehatan Indonesia ke arah yang lebih baik, aman, dan bermartabat. ***
Penulis: Praktisi Pendidikan dan Analis Kebijakan Publik

