BOJONEGORO, harnasnews – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro memperkuat strategi pembangunan berbasis data dengan menggandeng sebanyak 1.556 mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tahun 2026.
Para mahasiswa diterjunkan ke 62 desa yang tersebar di 9 kecamatan untuk membantu pemerintah memastikan berbagai program pembangunan benar-benar tepat sasaran.
Berbeda dengan pelaksanaan KKN pada umumnya, mahasiswa kali ini tidak hanya menjalankan pengabdian kepada masyarakat.
Mereka mendapat peran strategis sebagai enumerator sekaligus evaluator lapangan yang bertugas melakukan pendataan dan verifikasi secara langsung terhadap berbagai persoalan sosial di desa.
Langkah ini menjadi bagian dari visi besar Bupati Bojonegoro Setyo Wahono dalam membangun tata kelola pemerintahan berbasis data atau data-driven governance, terutama untuk mempercepat peningkatan kualitas sumber daya manusia serta mengurangi kemiskinan ekstrem.
Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah saat menerima mahasiswa KKN UPN Veteran Surabaya di Pendopo Malowopati, Selasa (15/7/2026), menegaskan bahwa hasil kerja mahasiswa nantinya tidak berhenti sebagai laporan akademik.
Menurutnya, data yang dikumpulkan akan menjadi dasar pemerintah daerah dalam mengambil kebijakan dan menyalurkan berbagai program bantuan kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
“Data yang diperoleh mahasiswa akan menjadi dasar eksekusi program pemerintah. Karena itu rekomendasi mereka sangat penting bagi pembangunan Bojonegoro,” ujarnya.
Selama berada di desa, para mahasiswa mengemban empat tugas utama yang menjadi prioritas pembangunan daerah.
Pertama, mereka melakukan evaluasi terhadap efektivitas sejumlah program pemberdayaan ekonomi masyarakat seperti Gayatri (Gerakan Ayam Petelur Mandiri), Domba Kesejahteraan, serta KOLEGA (Kolam Lele Keluarga).
Mahasiswa diminta memberikan penilaian akademis mengenai sejauh mana bantuan tersebut mampu meningkatkan pendapatan keluarga penerima manfaat.
Kedua, mahasiswa ikut membantu menekan angka anak putus sekolah di Bojonegoro.
Berdasarkan data pemerintah, masih terdapat 5.199 anak yang belum mengenyam pendidikan.
Melalui pendataan by name by address, mahasiswa diharapkan mampu menemukan mereka sekaligus mendorong agar kembali ke bangku sekolah.

