“Forum ini menjadi sangat penting. Sinkronisasi dan koordinasi yang jelas diperlukan untuk mencari solusi terbaik agar kebutuhan air masyarakat, khususnya petani, tetap terpenuhi,” ujar Setyo Wahono.
Bupati juga memberikan perhatian khusus kepada para camat yang wilayahnya memiliki jaringan irigasi.
Ia meminta para camat aktif mengawal distribusi informasi sekaligus menjadi penghubung antara pemerintah dan masyarakat agar setiap persoalan di lapangan dapat segera diatasi.
“Peran camat yang memiliki wilayah irigasi sangat penting untuk memastikan komunikasi dengan warga berjalan baik. Saya berharap forum ini mampu memperkuat koordinasi sekaligus melahirkan langkah-langkah konkret dalam mengantisipasi keterbatasan air selama MT III,” tegasnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus mengedepankan kolaborasi dalam pengelolaan sumber daya air.
Sinergi antara pemerintah, pengelola irigasi, dan masyarakat dinilai menjadi kunci agar kebutuhan air pertanian tetap terjaga meski memasuki musim kemarau.
Dengan koordinasi yang semakin kuat, Pemkab Bojonegoro berharap potensi kekurangan air pada Masa Tanam III Tahun 2026 dapat diminimalkan sehingga aktivitas pertanian tetap berjalan optimal dan produktivitas petani tetap terjaga. (Prokopim)(sh).

