Menurutnya, Haul Ki Andong Sari tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga sarana edukasi agar generasi muda mengenal sejarah daerahnya.
“Momentum haul ini harus menjadi inspirasi bagi anak cucu kita agar tidak melupakan perjuangan para pendahulu. Budaya yang baik harus terus kita uri-uri karena di dalamnya terdapat nilai-nilai kehidupan yang patut diteladani,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan sebuah daerah tidak lahir secara instan, melainkan melalui perjuangan panjang para pendahulu.
Oleh karena itu, masyarakat, khususnya generasi muda, perlu memahami sejarah agar tumbuh rasa bangga sekaligus memiliki tanggung jawab menjaga warisan budaya Bojonegoro.
Pada penyelenggaraan Haul Ki Andong Sari tahun ini, Pemerintah Kelurahan Ledok Kulon juga meluncurkan buku “Historiografi Ki Andong Sari”.
Buku tersebut mengulas perjalanan hidup Ki Andong Sari beserta perkembangan wilayah Ledok sebagai upaya memperkuat literasi sejarah lokal.
Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menyatakan siap mendukung pengembangan literasi tersebut melalui sinergi dengan Dinas Pariwisata.
Langkah ini diharapkan mampu memperluas pemahaman masyarakat mengenai sejarah Ki Andong Sari sekaligus mendorong penguatan potensi wisata budaya di Bojonegoro.
Melalui penyelenggaraan Haul Ki Andong Sari ke-244, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro bersama masyarakat kembali menegaskan komitmennya untuk menjaga warisan budaya, merawat sejarah lokal, serta menanamkan nilai-nilai perjuangan kepada generasi penerus agar jati diri budaya Bojonegoro tetap lestari di masa depan. (Prokopim)(sh)

