Kasus Bea Cukai Kian Panas, Dugaan Keterlibatan Mantan Pejabat Disorot

JAKARTA, Harnasnews – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ditantang untuk membongkar kasus suap di Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) yang diduga melibatkan orang berpengaruh di negeri ini. Modus yang dilakukan, yakni mengatur jalur merah dengan rule set 70 persen, di mana data diduga dimanipulasi agar barang impor ilegal/palsu milik PT Blueray Cargo tidak melalui pemeriksaan fisik. Adapun total suap dari praktik kotor tersebut mencapai Rp40,5 miliar rupiah.

Hal tersebut menyusul dengan temuan uang seniali Rp 5,19 miliar oleh KPK dalam lima koper di safe house di Ciputat, Tangerang Selatan, yang diduga berasal dari pengurusan cukai dan pengaturan impor. Selain uang, lembaga antirasuah itu menyita mobil dan barang lainnya. Hingga saat ini, pemeriksaan terus berlanjut, termasuk terhadap pihak swasta (pengusaha rokok dan Direktur PT Sinkos Multimedia Mandiri) terkait penerimaan fasilitas dari tersangka, serta pendalaman keterlibatan pihak lain.

Kuasa hukum PT Blueray Cargo, Dr. Dinalara D Butar Butar, mengungkapkan bahwa orang-orang yang ditetapkan tersangka oleh KPK saat ini belum tentu sebagai pelaku. “Tapi menurut saya patut diduga bukan orang BC malahan, tapi dia bawa-bawa nama BC. Karena kalau saya lihat selama proses-proses berita acara pemeriksaan (BAP) memang ada beberapa nama lagi di BC-BC disebut-sebut,” kata Dinalara, dalam kegiatan Diskusi Nasional bertejuk ‘Menguji Keberanian KPK Membongkar Mafia Bea Cukai, pada Kamis (16/04/26)

Dosen Fakultas Hukum Universitas Pakuan ini juga menduga nama-nama tersebut sengaja dicatut. Pasalnya, saat ia menanyakan secara langsung kepada JF yang merupakan kliennya itu, bahwa dirinya tidak berhubungan langsung dengan orang BC. Namun demikian, JF berhubungan dengan D (mantan orang BC) dan O yang masih aktif.

“Saat saya tanya kepada JF bahwa dia mengaku tidak langsung bertemu. Namun JF intens bertemu dengan D dan O semata. Artinya komunikasi intens dengan selain D dan O tidak pernah ada sebenarnya dengan nama-nama BC yang lain, seperti pelaku-pelaku yang sekarang ada di dalam,” ungkap dia.

Dinalara juga mengungkap bahwa nama-nama yang muncul di lingkungan Bea Cukai masih diragukan kebenarannya. Ia juga menilai bahwa pada saat pendampingan, KPK sangat teliti sehingga muncul nama-nama di luar Bea Cukai. Namun, ia juga mempersilakan jika KPK akan mengungkap fakta lain terkait kasus tersebut.

“Cuma pertanyaannya, kembali seperti pertanyaan dari media tadi, apakah itu akan ini akan diungkap sekarang oleh KPK? Saya tidak tahu, saya sih berharap masih akan ada screning-screning baru terhadap perkara ini. Agar terungkap yang sebenarnya, jadi bukan KPK tidak mampu, KPK mampu, cuma kenapa bukan sekarang, saya tidak tahu apa sebabnya, apa mungkin masih membutuhkan pembuktian-pembuktian lebih lanjut untuk menetapkan orang yang tadi saya sebutkan inisial itu, saya juga tidak tahu,” ungkap dia.

Ia juga meyakini figur berpengaruh di negeri ini diduga kuat ikut terlibat dalam skandal dugaan korupsi di lingkungan Bea Cukai. Oleh karena itu, pihaknya mendesak KPK agar tidak ragu dalam membongkar kasus ini hingga dapat mengungkap aktor di balik kasus suap di BC tersebut.

“Saya kasih inisial D. Apa hubungannya? Meski dia sudah pindah, tapi pengaruhnya tetap kuat di BC. Itu yang membuat praktik ini terus berulang,” ungapnya.

Diketahui, berdasarkan penelusuran, bahwa sosok D merupakan orang berinisial lengkap AD yang pernah terseret kasus-kasus sejak 2015, dan saat itu ditangani oleh Pusat Pelaporan dan Analisis Keuangan (PPATK) dan Kejaksaan Agung pada 2017 silam.

Tak hanya itu, Dinalara juga membeberkan modus penjualan nama-nama orang yang pengaruh dalam kasus yang saat ini tengah ditangani oleh KPK. Nama-nama besar kerap dibawa untuk meningkatkan nilai permintaan kepada para pelaku usaha.

“Modusnya bisa saja menjual nama. Supaya nilai yang diminta lebih besar, seolah-olah ada keterkaitan dengan pihak tertentu,” jelasnya.

Dinalara mengaku bahwa dalam persidangan mendatang dirinya bakal membongkar seluruh nama yang diduga ikut terlibat dalam kasus suap BC. “Karena persidangan kan dibuka untuk umum, jadi disitu akan terbuka otomatis disitu, siapa nama-nama itu. Justru menariknya bukan dari BC, menariknya adalah di luar BC yang punya power yang mengendalikan itu dan client saya itu patuh terhadap dia, karena mungkin dulunya dia pernah jadi pejabat, pernah menduduki suatu jabatan yang tinggi,” pungkasnya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.