Jelang Musda Golkar Kota Bekasi, Pengamat Usul Figur Kuda Hitam Redam Konflik Ade Puspitasari vs Ranny Fahd Arafiq

Pusat
3 Min Read
Ilustrasi (Foto: Ist)

KOTA BEKASI, Harnasnews – Polemik jelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Kota Bekasi perlu disikapi dengan arif. Para senior Partai Beringin itu semestinya mendinginkan suasana di tengah “perang dingin” antara kubu Ketua DPD Golkar Kota Bekasi Ade Puspitasari dengan kubu Ranny Fahd Arafiq.

Pengamat Politik dari Etos Indonesia Institute, Iskandarsyah, menyarankan perlu adanya jalan tengah guna meredam konflik jelang Musda pemilihan Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Kota Bekasi tersebut.

Sebab, persaingan langsung yang dipaksakan antarkubu tersebut dikhawatirkan meninggalkan gesekan atau luka politik jangka panjang setelah Musda selesai.

“Jelang Musda Golkar Kota Bekasi ini situasinya sudah perang dingin. Senior partai harus turun mendinginkan suasana, jangan dibiarkan persaingan ini memecah partai,” ujar Iskandarsyah kepada Harnasnews di Jakarta, Rabu (7/10/2026).

Menurut Iskandar, untuk meredam konflik tersebut, perlunya figur kuda hitam agar dapat mendinginkan suasana, mengalihkan fokus dari benturan ego kelompok, serta mendorong konsolidasi gagasan.

“Kuda hitam idealnya merupakan kader senior yang dihormati atau sosok profesional dari internal partai yang netral dan tidak punya resistensi tinggi dari kubu manapun,” katanya.

Iskandar menilai, baik Ade Puspitasari maupun Ranny Fahd Arafiq keduanya merupakan figur yang memiliki resistensi tinggi akibat kasus hukum yang menjerat keluarganya.

Share This Article