
BPJS Ketenagakerjaan Pastikan Hak Korban Kecelakaan di Bekasi Untuk Pejuang Wanita Di Gerbong Kereta
BEKASI, Harnasnews.com – Di antara riuh perjalanan pulang para pekerja yang setiap hari menempuh jarak demi keluarga, ada satu kisah yang terhenti sebelum sampai tujuan. Kisah itu milik Tutik Anitasari, warga perumahan Depsos, Cikarang Barat Kabupaten Bekasi.
Pada Senin malam, 27 April 2026 pukul 20.50 WIB, perjalanan pulang yang seharusnya menjadi rutinitas berubah menjadi peristiwa duka. Tutik meninggal dunia dalam kecelakaan kereta yang terjadi di stasiun Bekasi Timur.
Di balik angka-angka santunan dan proses administrasi yang kini berjalan, tersimpan duka yang begitu dalam. Seorang anak kehilangan ibunya, sosok yang setiap hari berjuang menjalankan peran sebagai pekerja sekaligus ibu.
Kisah Tutik semakin menggugah ketika publik mengenal sisi lain dirinya, bukan sekadar pekerja yang pulang larut, tetapi seorang ibu yang tetap membawa pulang kasih sayang, bahkan dalam bentuk paling sederhana.
Narasi yang beredar di media sosial tentang cooler bag berisi ASI perah menjadi simbol sunyi tentang cinta yang tak pernah absen, bahkan di tengah lelah dan perjalanan panjang untuk buah hatinya.
Dalam situasi seperti ini, negara hadir melalui BPJS Ketenagakerjaan untuk memastikan bahwa perlindungan tidak berhenti pada pekerja, tetapi berlanjut kepada keluarga yang ditinggalkan termasuk memastikan masa depan anak-anaknya tetap terjaga.
BPJS Ketenagakerjaan memastikan seluruh hak almarhumah diproses sesuai ketentuan. Total manfaat yang diterima ahli waris mencapai Rp435 juta, yang di dalamnya termasuk jaminan Rp166 juta untuk keberlanjutan pendidikan bagi kedua anak almarhumah hingga jenjang perguruan tinggi.
Anak pertama mendapatkan beasiswa sebesar Rp79 juta yang akan menopang kebutuhan pendidikan mulai dari kelas 4 Sekolah Dasar hingga perguruan tinggi. Sementara itu, anak kedua yang masih berada pada usia sangat dini akan mendapatkan dukungan pendidikan lebih panjang, yaitu sebesar Rp87 juta, dimulai dari Taman Kanak-Kanak hingga perguruan tinggi.
Lebih dari sekadar angka, beasiswa ini menjadi pengikat harapan bahwa di tengah kehilangan yang begitu besar, masa depan kedua anak Tutik tetap memiliki jalan. Pendidikan mereka akan tetap berjalan, cita-cita mereka tetap memiliki ruang untuk tumbuh, meskipun sosok ibu yang selama ini menjadi sumber kekuatan sudah tidak lagi hadir di sisi mereka.
Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, menyampaikan belasungkawa yang mendalam sekaligus menegaskan bahwa risiko kerja tidak selalu terjadi di dalam ruang kerja.
“Kita doakan Mas Aji dan keluarga tabah menerima musibah ini, dan kemudian kedua orang anaknya nanti mendapatkan pendidikan yang baik, memadai, sehingga menjadi kebanggaan keluarga. Dan ini menjadi pelajaran buat kita semua, pertama kami mengingatkan pentingnya kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan, dan kemudian yang kedua kita terus menghimbau perusahaan untuk memastikan semua karyawannya untuk ikut BPJS Ketenagakerjaan, karena santunannya itu akan ditanggung mulai dari berangkat kerja, di tempat kerja dan kembali ke rumah,” ujar Yassierli.
Kisah Tutik Anitasari menjadi pengingat yang sunyi namun kuat tentang wajah perjuangan pekerja Indonesia, terutama para ibu. Mereka berangkat dengan tanggung jawab profesional, dan pulang dengan cinta yang utuh untuk keluarga. Satu hal yang harus dipastikan, seluruh pekerja memiliki jaminan sosial ketenagakerjaan, karena perlindungan tidak hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk masa depan yang masih harus diperjuangkan oleh anak-anak yang ditinggalkan.
Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan, Saiful Hidayat, menegaskan bahwa setiap manfaat yang diberikan bukan sekadar angka, melainkan bentuk nyata kehadiran negara dalam menjaga keberlangsungan hidup keluarga pekerja.
Dirinya juga memastikan seluruh proses klaim korban dari tragedi naas ini berjalan cepat dan tepat, pihaknya bekerja secara proaktif memberikan layanan sehingga hak ahli waris dapat segera diterima tanpa hambatan.
“BPJS Ketenagakerjaan berkomitmen memastikan hak peserta diberikan secara cepat, tepat, dan sesuai ketentuan. Dalam kasus almarhumah Tutik Anitasari, kami ingin memastikan keluarga yang ditinggalkan tidak menghadapi duka ini sendirian. Tidak hanya santunan, tetapi juga keberlanjutan pendidikan anak-anak melalui beasiswa hingga perguruan tinggi menjadi bagian penting dari perlindungan ini,” tutup Saiful Hidayat.(Mam)
