
Aktivitas Penambangan Alat Berat di Wonorejo Trisulo Diduga Perparah Kerusakan Jalan
KEDIRI, Harnasnews – Menindaklanjuti pemberitaan sebelumnya yang dimuat di media ini berjudul “Kerusakan Ruas Jalan Desa Pranggang – Wonorejo Trisulo Kian Parah”, tim media kembali memperoleh informasi dari masyarakat terkait aktivitas penambangan yang terjadi di Desa Wonorejo Trisulo.
Berdasarkan informasi yang disampaikan warga, diduga terdapat aktivitas penambangan di salah satu lahan yang dilakukan oleh salah seorang warga berinisial (SJ) dengan menggunakan alat berat.
Salah satu warga mengirimkan foto dan video kepada tim media yang memperlihatkan aktivitas penambangan tersebut. Dari dokumentasi yang diterima, terlihat dua unit alat berat berada di lokasi, yakni backhoe dan loader. Namun, menurut keterangan warga, hanya loader yang beroperasi.
“Di lokasi ada dua alat berat, yaitu backhoe dan loader. Tetapi yang beroperasi hanya loader. Mayoritas truk yang ada di lokasi bertuliskan Sanjaya,” jelas salah satu narasumber yang enggan disebutkan namanya kepada media media ini.
Warga juga menjelaskan bahwa lahan yang ditambang diduga merupakan milik warga setempat yang bekerja sama atau menjual lahannya kepada pihak penambang.
“Untuk lokasi kemungkinan milik warga sekitar. Biasanya warga menjual atau bekerja sama dengan penambang dengan alasan peremajaan tanah agar dapat ditanami kembali,” tambahnya.
Sebagai informasi, Desa Wonorejo Trisulo yang berada tepat di bawah kaki Gunung Kelud memang memiliki potensi material tambang berupa pasir dan batu yang sangat melimpah. Kekayaan alam tersebut menjadi salah satu alasan mengapa masyarakat setempat banyak yang berprofesi sebagai penambang tradisional secara turun-temurun.
Menurut keterangan salah satu warga yang berprofesi sebagai penambang tradisional, dalam satu hari satu tim yang terdiri dari dua hingga tiga orang hanya mampu mengangkut sekitar 4–5 rit material. Berbeda jauh dengan penggunaan alat berat yang dalam satu hari dapat mencapai lebih dari 50 rit.
Perbedaan kapasitas tersebut membuat aktivitas penambangan menggunakan alat berat sering mendapat penolakan dari masyarakat dan penambang tradisional. Selain berpotensi merusak kawasan, aktivitas tersebut juga dinilai mempercepat kerusakan jalan umum.
Mengacu pada informasi warga, di lokasi penambangan yang diduga dilakukan oleh Sanjaya, sedikitnya terdapat 10 truk yang terparkir dan mengantre untuk proses muat material.
Warga menduga, aktivitas penambangan menggunakan alat berat inilah yang menjadi salah satu penyebab utama semakin parahnya kerusakan jalan raya Desa Pranggang – Wonorejo Trisulo.
Masyarakat pun mengeluhkan kondisi tersebut dan berharap ada solusi dari Pemerintah Daerah serta pihak berwenang.
“Jangan sampai nanti rusaknya jalan umum justru kami yang disalahkan. Dalam satu hari kami maksimal hanya 5 truk karena manual, itu sudah luar biasa. Kalau pakai alat berat bisa sepuluh kali lipat, sehingga kerusakan jalan jauh lebih cepat,” keluh salah satu warga.
“Kami juga tidak ingin ada konflik, sama-sama mencari rezeki. Tetapi kami berharap pemerintah tidak tinggal diam,” tambahnya.
Tingginya permintaan material tambang seperti tanah urug, pasir, dan batu di tengah maraknya proyek pembangunan di wilayah Kabupaten dan Kota Kediri diduga menjadi salah satu faktor meningkatnya aktivitas penambangan di kawasan tersebut. (Giga)
