
Kisruh Internal Cabor Tinju Kota Bekasi Jadi Batu Sandungan Ikuti Porprov Jabar
KOTA BEKASI, Harnasnews.com – Kota Bekasi akan menjadi salah satu tuan rumah pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Barat 2026 mendatang. Berbagi persiapan dilakukan oleh para Cabang Olahraga (Cabor).
Alih-alih fokus pada pemusatan latihan, sejumlah cabang olahraga (cabor) justru tersandera konflik internal kepengurusan yang berlarut-larut.
Sorotan tajam mengarah pada cabor tinju yang kini terbelah akibat dualisme kepengurusan. Kondisi ini dinilai tidak hanya memalukan secara administratif, tetapi juga mematikan karir para atlet yang seharusnya menjadi ujung tombak perebutan medali emas bagi Kota Patriot.
Mantan petinju nasional, Markus Gea, menyuarakan kekecewaan mendalam atas situasi ini. Pria yang akrab disapa Wira ini menilai konflik elite pengurus telah mengorbankan masa depan atlet yang tidak tahu-menahu soal politik organisasi.
“Yang menjadi korban bukan pengurus, tapi atlet. Mereka berlatih setiap hari, menjaga disiplin, namun kariernya terhenti karena konflik yang tidak pernah selesai,” tegas Wira saat ditemui di Camp Tinju Amatir Esalalan, Kota Bekasi, Senin (09/02/26).
Menurut Wira, dampak dari dualisme ini sangat fatal. Atlet kesulitan mendapatkan rekomendasi untuk bertanding di level nasional maupun internasional, sementara sasana-sasana di daerah terpaksa terkotak-kotak mengikuti kubu yang bertikai. Akibatnya, sistem pembinaan berjalan tanpa legitimasi yang jelas.
Ironi semakin terasa mengingat waktu pelaksanaan Porprov Jabar 2026 kian dekat. Selain tinju, kabar ketidakharmonisan juga tercium di cabor lain seperti bulutangkis. Hal ini diperparah dengan keluhan para pelatih mengenai minimnya anggaran untuk kebutuhan dasar latihan dan uji tanding.
“Target prestasi besar, tapi dukungan anggaran dan kepastian organisasi masih jauh dari ideal. Ini berbahaya kalau tidak segera dibenahi,” sindir Wira.
Wira mendesak agar pemerintah, baik melalui Kemenpora maupun Pemerintah Kota Bekasi, segera turun tangan. Ia menekankan bahwa negara memiliki tanggung jawab moral untuk mengakhiri ego sektoral demi menyelamatkan wajah olahraga Indonesia.
Bola panas kini berada di tangan Ketua KONI Kota Bekasi yang juga menjabat sebagai Wali Kota, Tri Adhianto. Publik menanti langkah tegas dan keberanian Tri untuk memotong akar konflik, menyatukan dualisme, dan memastikan persiapan tuan rumah Porprov Jabar 2026 berjalan di atas rel profesionalisme, bukan kepentingan golongan.
“Ini bukan sekadar konflik organisasi. Ini soal masa depan atlet. Negara tidak boleh kalah oleh konflik kepentingan,” pungkas Wira.(Mam)
