
APDI Ancam Mogok Berjualan, Pemeritah Dituding Tak Becus Kendalikan Gejolak Harga Daging Sapi
JAKARTA, Harnasnews – Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) mengancam mogok berjualan sebagai bentuk protes terhadap kebijakan pemerintah terkait dengan harga daging yang tidak stabil.
Pernyataan itu diungkapkan Sekjen APDI, Yayan Suryana, menanggapi gejolak harga daging sapi yang akhir-akhir ini dinilai sangat memberatkan para pelaku usaha daging, khusunya di pasar tradisional.
Yayan mengaku sangat keberatan dengan adanya harga yang ditetapkan pemerintah di angka Rp56 hingga Rp58 ribu per kIlo gram. Namun jika melihat kondisi riel di pasar tradisional, harga daging sapi saat ini tembus di angka Rp130 hingga Rp140 ribu per kilo gram.
Sementara belanja modal daging sapi pada musim libur Nataru ini di angka Rp125 ribu per kilo gram. Bahkan, pada musim libur lebaran 2026 mendatang harga daging sapi diprediksi bisa tembus di angka Rp160 ribu per kilo gram.
“Yang kami pikirkan adalah daya beli masyarakat. Sebagai pedagang daging tentunya kami memiliki tanggung jawab moril. Jangan sampai HET yang ditetapkan oleh pemerintah justru jadi bumerang bagi para pelaku usaha daging sapi. Khusunya di pasar tradisional,” ujar Yayan kepada wartawan di Kota Bekasi, Kamis (1/1/2026).
Untuk itu APDI meminta kepada pemerintah agar memberikan solusi terbaik di tengah gejolak harga daging sapi yang akhir-akhir ini dikeluhkan oleh para pelaku usaha daging sapi.
Yayan juga mengakui bahwa penjualan daging sapi pada libur Nataru 2025 ini menurun drastis hingga 40 persen. Persoalan itu dipicu lantaran harga daging sapi yang cukup tinggi, sehingga konsumen lebih memilih menu alternatif untuk menyiasati harga daging sapi yang meroket.
“Kami prediksi pasca libur Nataru ini pedagang daging sapi pembeli. Dan kembali ramai nanti jelang idul fitri, tapi itu pun dengan harga yang tak menentu,” ungkap Yayan.
Pihaknya berharap agar pemerintah mengeluarkan kebijakan harga faktur HET daging sapi sampai kepada pedagang di angka Rp54 hingga Rp55 ribu per kilo gram. Jika harga tersebut tidak bisa ditekan solusi lain yakni adanya subsidi daging beku dari pemerintah yang diimpor dari India.
“Sebab selama ini para pedagang daging khususnya di pasar tradisional hanya mengandalkan 70 persen sapi lokal dan sisanya daging impor beku dari India,” katanya.
Sayangnya, harga daging beku dari India juga hampir mendekati harga daging sapi lokal. Hal tersebut yag menjadi dilema bagi para pedagang daging di pasar tradisional.
Selama ini, kata Yayan, APDI tidak pernah mendapatkan kuota impor. Sementara pembelian daging impor melalui pihak ketiga.
“Untuk itu kami berharap agar pemerintah memberikan kuota impor pada APDI, sehingga harga daging sapi di pasaran dapat kembali normal,” harapnya.
Yayan juga mengaku tidak dapat berbuat banyak jika pemerintah tidak sesegera mungkin melakukan stabilitas harga daging di pasaran.
“Jika pemerintah tidak mengindahkan keluhan para pedagang daging, tidak ada jalan lain maka dimulai tanggal 6 Januari ini seluruh anggota APDI akan mogok berjualan,” pungkas Yayan.
