Wabup Bojonegoro, Menggaungkan Semangat Penguatan Sektor Pertanian

“Artinya, hampir 40 persen petani kita berkurang dalam 10 tahun terakhir,” tegasnya.

Tak hanya itu, persoalan regenerasi petani juga menjadi sorotan.

Berdasarkan data terbaru tahun 2026, mayoritas petani di Bojonegoro didominasi usia lanjut, dengan lebih dari 134 ribu petani berusia di atas 64 tahun.

Kondisi ini mendorong pemerintah daerah untuk mempercepat transformasi menuju pertanian modern.

Salah satu langkah konkret adalah optimalisasi penggunaan alat mesin pertanian, seperti transplanter (mesin tanam padi), guna mengatasi keterbatasan tenaga kerja.

“Kalau tidak segera beralih ke sistem modern, anak muda tidak akan tertarik masuk ke sektor pertanian,” imbuhnya.

Di sisi lain, peluang pengembangan pupuk organik lokal juga dinilai menjanjikan.

Selain mendukung keberlanjutan pertanian, langkah ini diyakini mampu membuka lapangan kerja baru serta memperkuat ekonomi desa.

Kabar baik datang dari sektor produksi. Dalam setahun terakhir, produksi padi Bojonegoro mengalami lonjakan signifikan, dari 710 ribu ton menjadi 864 ribu ton.

Peningkatan ini menjadi prestasi tersendiri yang patut diapresiasi.

Meski demikian, ancaman kemarau panjang menjadi perhatian serius ke depan.

Pemerintah menghimbau para petani untuk lebih adaptif dalam menentukan jenis tanaman agar terhindar dari risiko gagal panen.

“Petani harus cermat memilih komoditas saat musim kemarau, supaya tetap produktif dan tidak merugi,” pungkas Wakil Bupati.

Dengan dukungan ketersediaan pupuk, modernisasi alat, serta kolaborasi berbagai pihak, Bojonegoro optimistis mampu menjaga ketahanan pangan sekaligus menghadapi tantangan sektor pertanian di masa mendatang. (Prokopim)(SH).

Leave A Reply

Your email address will not be published.