
Babaritan, Kearifan Lokal Bekasi Yang Harus Dijaga Generasi Muda
KOTA BEKASI, Harnasnews.com – Nusantara terkenal dengan budayanya yang beragam dari berbagai daerah, Semuanya memiliki ciri dan filosofi masing-masing. Namun, seiring berkembangnya teknologi, semua itu mulai tergeser.
Harus ada generasi penerus yang melek akan budaya dan nilai kearifan lokal agar semua berjalan seimbang dengan kemajuan teknologi tersebut. Salah satunya yang terlihat di Kampung Kresek, kelurahan Jatimurni, Pondok Melati, Kota Bekasi yang menggelar Sedekah Bumi atau biasa disebut dengan Babaritan.
Walikota Bekasi Tri Adhianto yang hadir dalam kegiatan itu menjelaskan bahwa Babaritan merupakan salah satu untuk menjaga kelestarian dan mencerminkan rasa syukur masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung sederhana namun meriah ini juga diisi dengan berbagai kesenian tradisional khas Betawi seperti tari topeng, silat dan lainnya.
“Jadi nanti mudah-mudahan ke depan akan kita optimisasikan lagi, kita dorong lagi agar keluarga masyarakat tentu lebih banyak lagi untuk mengenal dan menikmati dan pada akhirnya tentu berinovasi,” ujar Tri kepada media di sanggar Seni Sasak Djikin, Jatimurni, pada Sabtu 2 Mei 2026.
Selain itu, kesenian lain bernama Ronggeng Nyentrik yang menjadi ciri khas juga disuguhkan sebelumnya.
“Ronggeng nyentrik itu adalah satu karya dari hasil representasi daripada ronggeng, Jadi semakin berkembang budaya yang ada tanpa meninggalkan akar daripada budaya yang ada,” ungkap dia.
Sedekah bumi sendiri dilaksanakan setiap tahunnya sebagai bentuk syukur kepada tuhan dan menjadi ajang silaturahmi
“Dan yang lebih penting adalah terus ada pesan-pesan bahwa kita harus terus menjaga bumi ini, menjaga lingkungan ini agar dapat memberikan hasil yang lebih optimal bagi kehidupan kita,” katanya.
Pada upaya mengantisipasi tergerusnya budaya Nasional dan kearifan lokalnya, pemerintah memberikan ruang, memberikan kesempatan.untuk itu, berbagai kegiatan budaya terus dikembangkan.
“Kegiatan budaya menjadi salah satu ikon yang terus kita akan pertahankan karena sebagai olahraga, biasanya olahraga seni dan budaya, ini satu rangkaian itu. Visinya kita menjadi kota sport, kota olahraga. Olahraga turunannya seni dan budaya,” tuturnya.
Dikatakan Tri bahwa pemerintah akan terus hadir memberikan support serta memfasilitasi dan memberikan kesempatan akan semua budaya, bukan hanya budaya asli Bekasi namun semua budaya yang hidup dan berkembang di Bekasi.
Marvianus Rasmaninam (43), selaku ketua Sanggar Seni Sasak Djikin menilai bahwa dirinya sebagai generasi milenial tergerak untuk terus melestarikan budaya leluhur yang saat ini makin tergerus jaman.
“Terntaya budaya itu bukan hal keren atau tidak keren, tapi budaya itu punya nilai jati diri, nah kita sebagai generasi muda harus tahu warisan leluhur,” katanya.
Lebih lanjut Marvianus juga menegaskan bahwa dirinya didorong orang tuanya agar mengenal nilai budaya leluhur seperti Babarit, Maulud, Sura dan lainnya.
Pelaksanaan Babaritan ini dahulu dilakukan di Sasak Djikin, namun, seiring dengan majunya pembangunan, lokasi tersebut sudah tidak representatif karena lalulintas yang padat. Untuk itu, kegiatan dilakukan di sanggar seni Sasak Djikin yang tidak jauh dari lokasi asalnya.(Mam)
