
Aceh Utara, Harnasnews – Di tengah sisa lumpur dan bau kayu lembap pascabanjir, halaman SMK Negeri 1 Lhoksukon kembali dipenuhi suara aktivitas. Bukan suara palu dari bengkel resmi, bukan pula dari jurusan pertukangan.
Namun di sanalah, semangat gotong royong tumbuh—menghidupkan kembali ratusan meja dan kursi yang sempat lumpuh diterjang banjir.
Sekolah yang berdiri di Jalan Banda Aceh–Medan KM 307, Gampong Alue Buket, Kecamatan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara itu menjadi salah satu fasilitas pendidikan yang terdampak cukup parah.
Sedikitnya 21 ruangan terendam, termasuk ruang-ruang belajar yang menjadi nadi aktivitas 552 siswa aktif.
Banjir tidak hanya meninggalkan genangan air, tetapi juga kerusakan. Meja dan kursi belajar rusak, lapuk, dan nyaris tak layak pakai.
Namun alih-alih menunggu bantuan datang, keluarga besar SMK Negeri 1 Lhoksukon memilih bergerak.
Tanpa jurusan meubelair, tanpa bengkel kayu lengkap, sekitar 150 meja dan 150 kursi siswa direhabilitasi secara swadaya.
Guru dan siswa bahu-membahu, membersihkan, mengeringkan, memperbaiki, dan mengecat ulang perabot yang masih bisa diselamatkan.
Kepala SMK Negeri 1 Lhoksukon, Saiful Bahri, S.Pd., M.E.I, menyebut proses ini sebagai pembelajaran yang tidak tertulis di buku pelajaran.
“Kami tidak punya jurusan khusus pertukangan. Tapi kami punya kemauan. Anak-anak belajar bekerja sama, berinisiatif, dan bertanggung jawab. Ini pendidikan karakter yang lahir dari situasi sulit,” ujarnya.Senin, (5/1/2026) pagi.
Bagi Saiful Bahri, rehabilitasi meja dan kursi bukan semata soal fasilitas, melainkan tentang membangun mental siswa agar tidak mudah menyerah saat dihadapkan pada keterbatasan.
Di ruang-ruang kelas yang belum sepenuhnya pulih, proses belajar mengajar tetap berjalan, menyesuaikan kondisi yang ada.
Di sisi lain, dukungan pemerintah juga mulai dirasakan. Melalui Dana Otonomi Khusus (Otsus) Aceh Tahun 2025, SMK Negeri 1 Lhoksukon menerima bantuan mesin dan peralatan praktik sepeda motor serta kendaraan ringan untuk menunjang pembelajaran vokasi.
“Bantuan ini sangat berarti. Ini bekal penting agar siswa kami punya keterampilan dan kemandirian untuk masa depan,” tambah Saiful Bahri.
Kini, di balik meja dan kursi yang kembali tegak berdiri, tersimpan cerita tentang ketangguhan sekolah di Aceh Utara.
Cerita tentang pendidikan yang tidak berhenti oleh bencana, tentang gotong royong yang menjelma menjadi solusi, dan tentang harapan agar pemulihan sarana pendidikan pascabanjir terus mendapat perhatian serius dari pemerintah dan pihak terkait.
Sebab bagi SMK Negeri 1 Lhoksukon, belajar bukan hanya soal teori—tetapi juga tentang bertahan, bangkit, dan melangkah bersama. (Zulmalik)
