
Dipicu Tingginya Harga Sapi Timbang Hidup, APDI Mulai Besok Mogok Berjualan
JAKARTA, Harnasnews – Para pedagang daging sapi se-Jadebotabek yang tergabung dalam Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) pada 6 Januari (besok) berencana melekukan aksi mogok berjualan secara serentak.
Aksi mogok tersebut sebagai bentuk protes para pedagang daging atas tingginya harga faktur sapi timbang hidup hingga mengakibatkan melonjaknya harga daging di pasaran.
Sekjen APDI Yayan Suryana menegaskan, meski hari raya idul fitri mash 2 bulan kedepan, namun gejolak harga daging sapi mulai dirasakan oleh sejumlah pelaku usaha daging di awal tahun 2026 ini.
Kondisi itu terjadi lantaran tingginya harga faktur timbang sapi hidup yang mencapai Rp53 ribu hingga Rp55 rubu perkilo gram sejak 3 bulan teakhir.
“Tingginya harga daging tersebut membuat para pedagang berencana menggelar aksi mogok berjualan secara serentak yang dimulai dari 6 Januari hingga waktu yang belum ditentukan,” ujar Yayan kepada Harnasnews di Jakarta, Ahad (4/1/2026).
Menurut Yayan, tingginya harga daging sapi berimbas pada ketidakmampuan pedagang untuk menghadapi konsumen di pasar. Seingga tidak ada jalan lain selain melakukan aksi mogok.
Pihaknya pun mengkhawatirkan dengan tingginya harga sapi timbang hidup membuat para konsumen akan berpaling untuk tak lagi mengkonsumsi daging.
“Kami para pedagang daging khususnya APDI menyatakan sikap bahwa kami para pedagang daging se-Indonesia merasa keberatan dengan gejolak harga yang saat ini terjadi,” kata Yayan
Dia menilai gejolak harga ini dikarenakan harga modal saat ini sangat tidak terjangkau oleh para pemotong, sebab harga faktur timbang hidup untuk sementara ini diangka Rp53 ribu hingga Rp55 ribu perkilo.
“Sedangkan di angka 53 – 55 ribu rupiah per kilo gram saja kami para pedagang daging sudah tak mampu berjualan, apalagi jika menyentuh angka 56 – 58 rupiah perkilo. Sementara hari raya idul fitri msh lama 2 bulan lagi,” ungkapnya.
Untuk itu, pihaknya mendesak kepada pemerintah agar mencarikan solusi terbaik bagi para pelaku usaha daging, khususnya di pasar tradisional.
Yayan mengatakan, saat ini harga sapi timbang hidup di angka Rp53 – Rp55 ribu per kilo gram para pedagang daging harus menjual daging di angka Rp130 – Rp140 perkilo.
Menurut dia, untuk moment hari besar keagamaan di saat angka permintaan tinggi, meski harga daging mahal konsumen masih bisa membeli. Akan tetapi pasca idul fitri dipastikan penjualan akan sepi.
“Pascalebaran nanti, kami prediksi konsumen akan meninggalkan kami karena keberatan dengan melambungnya harga,” ungkapnya.
Pihaknya berharap kepada pemerintah agar dapat mencarikan solusi terbaik dalam meghadapi gejolak haga daging di pasaran. Di antaraya memberikan kesempatan kepada APDI untuk mendapatkan kuota daging dari bulog, maupun daging beku dari india. (Dra)
