iklan iklan

Kuasa Hukum Soroti Kejanggalan Berkas Pelapor

BEKASI, Harnasnews.com – Sidang perkara pemalsuan menghadirkan fakta baru bagi kuasa hukum  para terdakwa pada sidang perkara Desa Tamanrahayu, Kecamatan Setu, Selasa (27/4/2021).

Kuasa Hukum Terdakwa Abdul Wahid cs, Taufik Hidayat Nasution, menjelaskan pertama terletak pada Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP) milik saksi pelapor Gunawan Alias Kiwil.

“Jadi kalau berdasarkan fakta yang terungkap di persidangan banyak kejanggalan, seperti SPOP 1987 sedangkan tahun meninggalnya Ontel bin Teran sekitar 1950-an,” ucap dia kepada wartawan usai sidang.

Kemudian, alamat pada SPOP itu dinilai tak valid karena tertera Kampung Serang RT 003 RW 03, padahal pada tahun 1987, alamat permakaman itu adalah Kampung Serang RT 005 RW 02.

Kata dia. Alamat RT 003 RW 03, baru ada pada 1995 ketika pemekaran RT dan RW di lingkungan Desa Tamanrahayu.

“Kejanggalan lagi dalam SPOP
tersebut nomor persil 56, sedangkan kalau dilihat dari Letter C Desa Tamanrahayu, Pak Abdul Waihd tak pernah menemukan persil 56. Yang ditemukan ada Persil 50 atas nama Satam bin Ontel. Punya anak dua, Siong dan Sakam. Sakam punya anak namanya Unan yang merupakan ayah saksi pelapor,” kata dia.

Kemudian Taufik sempat menyoroti luas lahan di SPOP sebesar 10 juta meter persegi yang pada BAP kepolisian juga berbunyi demikian.

“Tadi saksi bilang luas 11 ribu, di SPOP 10 juta meter. Kalau pun benar seluas 10 ribu atau 11 ribu meter persegi itu juga masih dalam ambang luas tidak wajar. Berapa pajaknya itu. Di situ terlihat keragu-raguan Saudara Gunawan dalam memberikan keterangan,” kata dia.

Hal lain yang juga disoroti Taufik adalah uang kompensasi sebesar Rp600 juta, di persidangan Gunawan meralat uang itu sebagai uang terima kasih karena dia bersedia mencabut LP. Klien Taufik mengaku sudah menyerahkan uang sebesar itu terbukti dari dua kwitansi yang ada.

Dari uang sejumlah itu, kades menyerahkan Rp410 juta pada 1 Juni 2021 dengan disaksikan oleh beberapa saksi, seperti Cucung, Ahmad Repa’i, dan Supri Andriana di rumah  Haji Nedih yang disebut masih berkerabat dengan Abdul Wahid. Saat itu Gunawan hadir bersama seseorang bernama Nanta Johan.

“Jadi kalau berdasarkan fakta yang terungkap di persidangan Saudara Nanta Johan, Gunawan membantah dia menerima sisanya Rp190 juta. Dia berkilah yang Rp190 juta di kwitansi yang menandatangani Nanta Johan,” ucapnya.

Menurut Taufik. Saat diminta menghadirkan saksi bernama Gunawan, tampak ragu dan tak menjamin apakah bisa menghadirkan yang bersangkutan atau tidak.

Dia pun berupaya agar Nanta hadir pada persidangan berikutnya. Karena, uang 190 sisa itu merasa tak diterima Gunawan, dia pun tetap melanjutkan perkara itu kepada Polres Metro Bekasi.

Pada sidang itu Gunawan menghadirkan 5 orang saksi, yaitu Unan, Suhi, Achmad Dais, Sarnan Santika, dann Juhara.

Sidang yang berlangsung di ruang sidang lantai 2, itu dipimpin oleh Hakim Ketua Candra Ramadhani, Hakim Anggota Agus Sutrisno dan Albert Dwi Putra Sianipar, dan Panitera Frans.

Pada sidang itu keempat terdakwa hadir, yakni Abdul Wahid, Ahmad Repa’i, Irfan Firmansyah, dan Supri Andriana Permana, dampingi kuasa hukum Taufik Hidayat Nasution dan Akbar Mulia. (Sygy)

Leave A Reply

Your email address will not be published.