Mengaku Tak Pernah Dilibatkan dalam Pembahasan Kuota Haji Tambahan, Yaqut Seret Nama Jokowi dan Dito Ariotedjo

JAKARTA, Harnasnews – Mantan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas membantah bahwa dirinya ikut terlibat maupun menikmati uang hasil korupsi kuota haji 2023-2024.

Yaqut menegaskan, bahwa dirinya tidak pernah dilibatkan dalam pembahasan penambahan kuota haji 2023-2024 Bahkan, saat itu Presiden Jokowi sendiri yang menerima langsung otoritas Kerajaan Arab Saudi, Pangeran Muhammad bin Salman.

“Ketika Presiden Jokowi menerima kuota tambahan sebanyak 20 ribu itu, tidak ada saya. Presiden waktu itu didampingi Menteri BUMN Erick Thohir, Menpora Ario Bimo Nandito Ariotedjo atau lebih dikenal Dito Ariotedjo dan Mensesneg Pratikno,” ujar Yaqut seperti dikutip dari chanel youtube ruangpublikIDN, Jumat (16/1/2026).

Yaqut menegaskan, jika saat itu dilibatkan dalam pembahasan penambahan kuota haji, ia akan menyampaikan kepada presiden soal situasi di tahun 2023. Bahwa penambahan kuota 20 ribu itu akan sangat sulit mencarikan layanan teknis yang paripurna.

“Paktanya, ketika Jokowi membahas  tambahan itu saya tidak ada di situ, sehingga saya tidak bisa memberikan pertimbangan. Terus terang saya kaget ketika presiden mengumumkan adanya tambahan kuota haji. Yang ada di benak saya bagaimana menyiapkan hal teknisnya. Sementara tahun 2023 saja begitu kacaunya,” ungkap Yaqut.

Yaqut pun menduga bahwa saat itu presiden tengah bermasalah dengan dirinya, sehingga saat berbicara soal penambahan kuota haji tidak dilibatkan.

“Yang saya pikir saat itu apakah presiden tengah bermasalah dengan saya sehingga saat pembahasan penambahan kuota haji sebagai Menag saya tidak dilibatkan,” ujar Yaqut.

LebIh lanjut, Yaqut pun kembali menegaskan bahwa tidak pernah terpikir sedikitpun bahwa dirinya akan mengambil keuntungan dalam penambahan kuota haji.

“Tidak ada terpikir sedikitpun bahwa saya akan mengambil keuntungan dari proses pembagian kuota haji lima puluh-lima puluh itu,” katanya.

Yaqut juga mengaku bahwa dirinya tidak menerima sepeser pun dari proses pembagian kuota itu. Baik untuk diri pribadi, Jamiyah Nahdlatul Ulama maupun Ansor.

“Saya tidak pernah berpikir soal keuntungan maupun uang, namun yang saya pikirkan paling utama dan terutama adalah bintunafs,” pungkasnya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.