Pemprov Jatim vs Pemkot Surabaya, Jangan Biarkan Cermin Jadi Retak

Oleh: Nurdin Longgari

SURABAYA,Harnasnews.com –  Tidak terasa penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk Surabaya Raya, sudah memasuki hari ke Tujuh.

Virus corona atau COVID-19 semakin dirasakan masyarakat, terutama mereka yang berpenghasilan pas-pasan atau kaum marjinal.

Saat ini masih banyak masyarakat surabaya yang belum terjamah dengan bantuan sosial, kondisi mereka semakin menderita dan kesulitan untuk memenuhi isi perut keluarganya.

Pemkot Surabaya diminta untuk segera turun mencairkan dan memberikan berbagai bantuan, ada banyak ketua- ketua RT yang mengeluh karena warganya belum mendapatkan bantuan dari Pemerintah Kota Surabaya, terutama bantuan kebutuhan pokok.

Masyarakat mengalami kecemasan, ketakutan dan kepanikan yang sangat luar biasa akan kondisi kesehatan akibat wabah yang tak tau kapan berakhirnya.

Dalam penerapan PSBB, jangan hanya sebahagian masyarakat saja yang mendapat bantuan bahan pokok atau sembako, kalaupun bantuan dari Pemkot Surabaya sudah turun ke 31 Kecamatan, kenapa masih banyak masyarakat di tingkat RT belum menerima bantuan, ini perlu pengawasan, mungkin ada pembagian yang tidak tepat sasaran, Walikota Surabaya wajib turun kelapangan untuk bertanya langsung ke masyarakat nya.

Selain itu masih banyak juga masyarakat tidak taat dengan penerapan PSBB, mereka beralasan bagaimana caranya bisa makan kalau disuruh di rumah saja, sementara bantuan sosial tidak merata.

PSBB tak memberikan solusi bagi masyarakat, khususnya pekerja sektor informal, dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, sehingga para pekerja informal, seperti pedagang asongan dan PKL, dinilai akan tetap keluar rumah mencari nafkah untuk makan.

Disisi lain Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kota Surabaya, saling tuding, saling menyalahkan seperti yang marak diberitakan oleh media, terkait penyebaran covid-19 di pabrik rokok PT. HM. Sampoerna di Jalan Kalirungkut Surabaya yang menjadi klaster baru, dan berbuntut panjang.

Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa mengatakan ada respons yang lambat terkait penanganan awal risiko penularan COVID-19 di pabrik rokok PT. HM. Sampoerna. Padahal sejak 14 April 2020, pihak perusahaan telah melapor ke Dinas Kesehatan Surabaya.

Sementara Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menyangkal tuduhan Pemprov Jawa Timur perihal lambatnya merespons laporan dari Sampoerna.

Kedua pernyataan saling tuding, dan saling menyalahkan antara Pemprov Jatim dan Pemkot Surabaya, ini pertanda cermin rakyat retak, keretakan ini yang membuat corona semakin bergembira, sementara rakyat semakin menderita.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kota Surabaya, anda adalah cermin masyarakat, jangan diretakkan cermin itu, apalagi pecah, hentikan saling tuding, dan saling menyalahkan, saatnya peduli dengan masyarakat, segera tangani jika ada karyawan Sampoerna yang posotif terjangkit virus corona, saling tuding dan saling menyalahkan bukan solusi yang tepat.

Ingat, jika cermin anda ada yang retak, mulailah mewaspadai diri sendiri. Lebih baik menata dan memperbaiki terus kualitas kemanusiaan, ketimbang saling menyalahkan, bahkan memecahkan cermin.

Sebagai manusia yang tidak luput dari kesalahan, dan dosa, tentu banyak hal yang masih memerlukan perbaikan dan pembenahan. Untuk itu Pemprov Jatim dan Pemkot Surabaya sebaiknya saling mengingatkan dalam kesabaran dan kebenaran yang mengandung nilai bahwa perbaikan tersebut memang tidak mudah dan harus terus dijalani.

Alangkah eloknya jika kedua pucuk pimpinan tersebut guyub rukun demi masyarakat, sekarang ini banyak masyarakat yang di PHK, di rumah kan, nganggur, mereka butuh makan namun bantuan tak kunjung datang.

Belum lagi kebutuhan pokok sulit di dapat karena pasar rakyat banyak ditutup walaupun sifatnya hanya sementara, namun perut rakyat yang lapar tidak mengenal kata “lapar sementara”, lapar ya.. tetap lapar.

Penulis mengutip Firman Allah dalam Al- Qur’an Surat Ali Imran ayat 103, yang artinya, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara”.

Ibu Gubernur Jawa Timur dan Ibu Walikota Surabaya, penulis mendoakan, agar kedua Ibunda menjadi pemimpin yang bertanggung jawab, yang disegani, yang didengarkan tutur kata dan perintahnya, yakni pemimpin yang menegakkan kebenaran dan keadilan. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al- Qur’an Surat Al-Maidah, ayat 8, yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil.

Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa”…

Surabaya, 4 Mei 2020
Nurdin Longgari.

Leave A Reply

Your email address will not be published.